Life must go on! Tidak ada yang tahu kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir. Kita dipaksa melakukan kebiasaan baru di dalam kehidupan sehari-hari agar mampu menyesuaikan dengan kehadiran virus baru yang yang berbahaya ini. Salah satu yang paling esensial adalah pemakaian masker saat berolahraga. 

Sejak bulan Maret 2020, WHO merekomendasikan pemakaian masker ketika beraktivitas di luar rumah, karena cara tersebut terbukti dapat mengurangi resiko tertular oleh COVID-19. Menurut penelitian Anna Davies, et al. pemakaian masker kain non-medis dapat mengurangi resiko tertular dengan menghalangi 74% partikel berukuran sama dengan virus.

Kita secara terpaksa menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Tempat umum seperti pasar dan pertokoan yang kini sudah mulai dibuka kembali, mewajibkan semua pengunjungnya untuk memakai masker. Namun setelah beberapa waktu berjalan, pemakaian masker mulai menjadi kebiasaan. Hal ini mempengaruhi kegiatan kita sehari-hari; terasa seperti ada yang kurang ketika terlupa memakai masker saat keluar rumah, mulai dari kegiatan yang ringan seperti berangkat bekerja atau pergi membeli kebutuhan di pasar, hingga kegiatan yang membuat tubuh bekerja lebih berat seperti ketika berolahraga.

Apa perubahan yang terjadi di dalam tubuh kita?

Pada keadaan biasa, pemakaian masker tidak berpengaruh besar kepada kondisi tubuh kita. Namun ketika tubuh melakukan kegiatan yang berat seperti berolahraga, pemakaian masker bisa berbahaya. Ketika berolahraga, seperti lari, bersepeda, atau aktivitas fisik lain, tubuh kita bekerja lebih berat. Metabolisme meningkat karena tubuh memerlukan energi tambahan. Kompensasi yang dilakukan antara lain, detak jantung meningkat untuk mempercepat aliran darah, dan nafas menjadi lebih cepat untuk memenuhi tambahan kebutuhan oksigen. Sebaliknya, pemakaian masker menghalangi saluran nafas, pasokan oksigen dari luar menurun dan karbondioksida tidak bebas dikeluarkan.

Penelitian Fernando Pifarre, et al. di Apunt Sport Medicine mengatakan bahwa kondisi hipoksia (kekurangan oksigen) dan hiperkapnia (terlalu banyak karbon dioksida) dengan kadar tertentu muncul pada atlet yang beraktivitas fisik menggunakan masker.

Hipoksia adalah kondisi tubuh kekurangan oksigen hingga tahap sel, dan hiperkapnia adalah kondisi meningkatnya pacu jantung karena gangguan pembuangan karbondioksida. Kedua kondisi ini sangat berbahaya apabila tidak segera dihentikan. Penelitian tersebut dilakukan pada delapan orang atlet yang sudah biasa melakukan aktivitas fisik, bisa dibayangkan apabila kondisi yang sama terjadi kepada orang biasa atau bahkan orang yang memiliki penyakit bawaan seperti sakit jantung, asma, dan lain-lain, hasilnya bisa menjadi lebih buruk.

Jadi, sebaiknya bagaimana?

Masker wajib dipakai ketika beraktivitas diluar rumah untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. Namun masker tidak direkomendasikan untuk dipakai ketika melakukan aktivitas berat seperti olahraga. Pilihan terbaik adalah melakukan olahraga di rumah. Jika kita terpaksa melakukannya di luar rumah, prinsip physical distancing harus kita lakukan dengan menghindari tempat yang ramai. Apabila harus melewati atau berada di keramaian, masker tetap dipakai tapi dengan menurunkan intensitas aktivitas fisik yang kita lakukan.

Berolahraga tetap diperlukan untuk menjaga tubuh tetap pada kondisi yang prima atau hanya sekedar menjalankan hobi, penyesuaian dengan memakai masker secara bijaksana kita lakukan pada masa pandemi ini agar mampu bertahan melawan serangan COVID-19.

dr. Kamal Musthofa

Sumber:

  1. WHO. 2020. Advice on the use of masks in the context of COVID-19
  2. Anna Davies, et al. Testing the Efficacy of Homemade Masks: Would They Protect in an Influenza Pandemic?, Society for Disaster Medicine and Public Health (2013)
  3. Pifarr ́e F, Zabala DD, Grazioli G, de Yzaguirre i Maura I, COVID-19 and Mask in sports, Apunts Sports Medicine (2020)
1 Comment
Leave a Reply