Anda pasti pernah membaca atau paling tidak secara mendengar tentang penelitian yang menyatakan bahwa virus SARS-COV2 atau COVID-19 atau yang disebut-sebut sebagai corona bisa bertahan pada 7 permukaan benda mati untuk beberapa waktu. Ternyata pernyataan ini berasal dari dua penelitian yang berbeda. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita bahas secara sedikit mendalam pada artikel ini.

Apakah virus SARS-COV2 atau COVID-19 itu? Kenapa disebut juga dengan “Corona”?

Pertama-tama kita perlu mengerti beberapa hal mendasar mengenai virus. Virus dianggap sebagai suatu kompleks biokimia yang berukuran sangat kecil yaitu 20 – 300 nm, sehingga virus mulai dikenal di akhir abad ke-19 setelah ditemukannya mikroskop di akhir abad ke 17. Virus memiliki sifat yang unik, yaitu virus tidak bisa bergerak sendiri ataupun bertumbuh, namun virus mengandung senyawa genetik dan bisa berkembang biak seperti makhluk hidup lain. Untuk berkembang biak, virus perlu menginfeksi dan berada di dalam sel hidup, baik bakteri, tumbuhan, hewan dan manusia. Jika virus tidak berada pada sel hidup yang sesuai, maka virus akan hancur dalam waktu tertentu. Oleh karena sifat ini virus disebut sebagai parasit intraseluler.[1]

Secara sederhana virus memiliki jenis-jenis dan penggolongan tersendiri berdasarkan bentuknya maupun data genetik yang dibawa berupa DNA atau RNA. Salah satu jenis virus yang ada adalah Coronaviridae, dimana virus ini memiliki bentuk bulat dan terdapat tonjolan-tonjolan protein di lapisan terluarnya yang membuat virus ini terlihat seperti mahkota (corona dalam Bahasa Latin) saat dilihat di mikroskop. SARS-COV2 atau COVID-19 yang saat ini sedang menimbulkan masalah besar di dunia adalah virus golongan ini, jadi kata ‘corona’ diambil dari istilah Coronaviridae. Contoh lain yang termasuk golongan Coronaviridae adalah SARS-COV1 yang sempat merebak pada tahun 2003, dan virus MERS-CoV yang merebak di Timur Tengah pada tahun 2012.[2]

Penyebaran virus COVID-19 melalui droplet

Virus COVID-19 menyebar dari satu orang ke orang lain bisa secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara langsung terjadi melalui kontak langsung antara orang yang terinfeksi dengan orang yang sehat, bisa melalui kontak fisik maupun saat berbicara dengan jarak dekat. Sedangkan penularan secara tidak langsung terjadi ketika orang yang sehat menyentuh benda yang terkontaminasi virus COVID-19 kemudian secara tidak sadar memegang mulut, hidung atau matanya yang merupakan pintu masuk virus COVID-19 pada tubuh manusia.[3]

Jika anda teliti mungkin anda akan bertanya bagaimana virus ini bisa berpindah-pindah, karena dijelaskan sebelumnya virus tidak dapat bergerak sendiri. Ya, virus memang tidak dapat bergerak, namun virus bisa keluar dari seseorang dan menyebar melalui droplet. Droplet secara sederhana adalah suatu butiran air yang sangat kecil (ukuran 5-10µm) yang dikeluarkan dari mulut dan hidung saat anda berbicara, batuk atau bersin. Pada seseorang yang terinfeksi virus di dalam droplet-nya juga akan ditemukan virus yang sama. Di dalam droplet ini pula virus dapat bertahan untuk beberapa waktu di luar sel hidup. Karena droplet sangat kecil, droplet yang ada di udara atau menempel pada permukaan benda mati tidak terlihat oleh mata manusia.[4]

Virus COVID-19 bisa bertahan pada 7 permukaan benda mati

Penelitian oleh Van Doremalen et al. (April 2020) dan Alex W.H. Chin et al. (April 2020) menguji ketahanan virus ini pada berbagai kondisi dan permukaan. Pada prinsipnya kedua penelitian ini menggunakan metode yang mirip, yaitu membuat aerosol atau droplet buatan yang berisi virus COVID-19 menggunakan suatu alat. Kemudian aerosol/droplet buatan ini disemprotkan pada benda-benda yang disebutkan di atas. Pada menit, dan jam yang telah ditentukan sebelumnya diambil sampel lalu dimasukkan ke dalam media transport khusus dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan jumlah virus di laboratorium.[5],[6]

Kedua penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa virus COVID-19 dapat bertahan pada semua permukaan benda tersebut dengan waktu yang beragam. Berikut adalah pengelompokkan dan rincian benda-benda tersebut beserta lama virus COVID-19 dapat bertahan:[3]

  1. Plastik (3-7 hari), baik plastik untuk pembungkus, maupun untuk bahan dasar berbagai benda, seperti peralatan elektronik, gadget, kartu (SIM, KTP, ATM), sakelar lampu, mainan dan di beberapa bagian kendaraan bermotor.
  2. Stainless (3-7 hari), yaitu pada peralatan makan dan peralatan masak, juga bisa ditemukan pada gagang pintu, kunci, dan peralatan tukang.
  3. Uang (2 hari), pada uang logam (berbahan dasar tembaga) bertahan hingga 4 jam, pada uang kertas bertahan hingga 2 hari
  4. Kertas (hingga 3 jam), yaitu semua jenis kertas, baik yang kita gunakan untuk menulis juga kertas koran, majalah, amplop serta tissue.
  5. Kaca (hingga 4 hari), banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pada jendela, cermin, gelas, piring, meja, hingga handphone.
  6. Karton (hingga 24 jam), yang dimaksud adalah yang digunakan untuk packaging, bisa berupa kardus maupun yang lebih tipis seperti pada karton wadah makanan.
  7. Kayu dan kain (hingga 2 hari), yaitu pada mebel dan masih banyak digunakan juga untuk jendela dan pintu.

Virus COVID-19 juga bisa menyebar melalui udara!

Menurut pernyataan WHO terbaru, ternyata virus COVID-19 bisa berada di dalam droplet nuclei atau aerosol (yaitu droplet yang berukuran <5µm). Droplet nuclei/aerosol inilah yang dapat berterbangan di udara dalam beberapa jam. Saat ada orang sehat yang menghirup Droplet nuclei/aerosol di udara tanpa menggunakan masker, maka ia dapat tertular. Hal ini yang disebut airborne. Biasanya droplet nuclei/aerosol ini terbentuk saat dilakukan prosedur kedokteran yang menimbulkan aerosol, salah satunya adalah penguapan dengan alat nebulizer. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa droplet nuclei/aerosol ini bisa terbentuk saat orang batuk, berbicara bahkan bernafas biasa.[4]

Penelitian oleh Van Doremalen et al. (April 2020) juga menunjukkan bahwa dalam bentuk aerosol virus COVID-19 bisa bertahan hingga 3 jam di udara, namun penelitian ini dilakukan dengan membuat aerosol melalui alat khusus. Pada kondisi nyata aerosol yang terbentuk tidak sebanyak pada penelitian tersebut, sehingga penularan virus COVID-19 melalui udara (airborne) dimungkinkan pada kondisi berikut: terdapat banyak orang, berada pada ruang tertutup tanpa ventilasi yang baik, dan dalam waktu yang lama.

Laporan nyata yang terjadi adalah saat latihan paduan suara, saat di restoran dan di tempat fitness. Hal ini juga bisa saja terjadi jika kita menonton bioskop, menonton konser indoor, beribadah di ruang tertutup, atau pesta di ruang tertutup.[4],[5]

Jadi, Bagaimana solusinya?

Dari pembahasan diketahui bahwa virus COVID-19 tidak langsung hilang ketika keluar dari tubuh seseorang. Virus COVID-19 masih bisa bertahan di udara hingga 3 jam dan di permukaan benda mati paling lama hingga 7 hari (1 minggu).[4],[5],[6]

Jadi, anjuran WHO, dokter, dan pemerintah untuk senantiasa memakai masker, menjaga jarak dan rutin mencuci tangan adalah hal yang paling tepat dilakukan guna mencegah penularan virus COVID-19. Memakai masker akan mencegah droplet yang dikeluarkan dari seseorang yang membawa virus COVID-19 menyebar, juga mencegah virus masuk ke mulut atau hidung anda secara langsung. Menjaga jarak atau menghindari tempat-tempat keramaian juga akan membantu mencegah penyebaran virus, baik melalui udara maupun melalui kontak fisik. Kebiasaan mencuci tangan sebelum menyentuh wajah akan mencegah masuknya virus COVID-19 ke dalam tubuh anda, karena dengan mencuci tangan anda akan menghancukan virus COVID-19 yang tidak disadari menempel di tangan anda. Perlu dicatat hal tersebut efektif bila anda cuci tangan menggunakan sabun, dan dengan cara yang tepat.[4] 

Terakhir, berdasarkan penelitian Alex W.H. Chin et al. anda juga dapat melakukan pencegahan dengan rutin membersihkan benda mati di sekitar anda, terutama yang kita bawa dari luar rumah menggunakan beberapa cairan berikut yang terbukti bisa menghancurkan virus COVID-19 kurang dari 5 menit:[6]

Alex W.H. Chin et al. (April 2020)
  • Cairan pemutih yang diencerkan 1:49 dan 1:99, 
  • Ethanol (70%), 
  • Povidone‐iodine (7.5%), 
  • Chloroxylenol (0.05%), 
  • Chlorhexidine (0.05%) 
  • Benzalkonium chloride (0.1%). 

Daftar Pustaka

1. Actor JK. Basic Virology. In: Elsevier’s Integrated Review Immunology and Microbiology [Internet]. Elsevier; 2012. p. 121–8. Available from: https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/B9780323074476000132

2. Payne S. Family Coronaviridae. In: Viruses [Internet]. Elsevier; 2017. p. 149–58. Available from: https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/B9780128031094000179

3. Schulman JS. How Long Does the Coronavirus Live on Different Surfaces? [Internet]. Healthline. 2020. Available from: https://www.healthline.com/health/how-long-does-coronavirus-last-on-surfaces

4. World Health Organization. Transmission of SARS-CoV-2: implications for infection prevention precautions [Internet]. Geneva; 2020. Available from: https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/transmission-of-sars-cov-2-implications-for-infection-prevention-precautions

5. van Doremalen N, Bushmaker T, Morris DH, Holbrook MG, Gamble A, Williamson BN, et al. Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. N Engl J Med [Internet]. 2020 Apr 16;382(16):1564–7. Available from: http://www.nejm.org/doi/10.1056/NEJMc2004973

6. Chin AWH, Chu JTS, Perera MRA, Hui KPY, Yen H-L, Chan MCW, et al. Stability of SARS-CoV-2 in different environmental conditions. The Lancet Microbe [Internet]. 2020;1(1):e10. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/S2666-5247(20)30003-3

Leave a Reply