Kita pasti sudah sangat tidak asing lagi dengan COVID-19 ataupun virus corona. Virus tersebut sudah menjadi sebuah pandemi global yang menjangkit seluruh negara. Sampai hari ini di Indonesia sudah lebih dari 80 ribu orang terdeteksi positif corona dan masih terus bertambah dengan laju yang signifikan mencapai lebih dari seribu orang per hari.

Untuk menekan laju pertambahan pasien corona, pemerintah memberikan imbauan untuk tidak keluar rumah bila tidak ada urusan yang mendesak. Namun, pasti timbul pertanyaan apakah kita juga harus menunda untuk pergi ke dokter selama pandemi ini ? 

Berbagai perhimpunan dokter menyarankan untuk menunda kunjungan ke klinik dokter atau rumah sakit selama pandemi kecuali untuk kondisi darurat atau kontrol rutin suatu penyakit. Mengapa kita harus menunda? Bukan tanpa alasan hal tersebut dilakukan, ada risiko untuk seorang yang positif COVID-19 juga berada di area tersebut. Menurut hasil terkini dari WHO, virus corona bukan hanya bisa menyebar melalui droplet namun juga melalui udara atau disebut airborne transmission. Oleh karena itu risiko seseorang untuk terinfeksi virus corona sangat besar meskipun tidak ada kontak fisik dengan pasien COVID-19 pada kondisi ruangan tertutup seperti tempat praktik dokter. 

Kondisi apa saja yang diperbolehkan?

Kita memang dianjurkan untuk menunda ke dokter, tapi ada pengecualian untuk kondisi-kondisi tertentu, yaitu kondisi darurat dan kontrol rutin. Kondisi darurat untuk ke dokter itu berbeda-beda tergantung dari spesialisasi dokter yang akan dikunjungi. Berikut beberapa yang dapat dijadikan contoh:

  1. Spesialis saraf: kondisi darurat meliputi nyeri hebat yang tidak membaik dengan obat bebas, kelumpuhan atau sulit bergerak mendadak, kejang, dan sulit bicara atau pelo. 
  2. Spesialis anak: bila anak mengalami demam tinggi 3 hari lebih, diare dan muntah terus menerus, perdarahan banyak, kejang dua kali atau lebih, dan penurunan kesadaran.
  3. Spesialis kandungan: bila mengalami muntah hebat, perdarahan, kontraksi, pecah ketuban, kejang, dan nyeri kepala hebat.
  4. Spesialis THT-KL: bila mengalami mimisan banyak tidak berhenti, keluar cairan telinga yang disertai demam dan sakit kepala hebat, kemasukan benda asing, penurunan pendengaran secara tiba-tiba, telinga hebat disertai pilek, dan abses daerah leher.
  5. Spesialis jantung: bila mengalami sesak memberat dengan posisi tidur disertai batuk riak dahak berwarna merah muda, dan nyeri dada seperti ditindih beban berat menjalar kelengan atau punggung disertai mual, muntah dan keringat dingin. 

Pada intinya kita tetap bisa ke dokter hanya untuk kondisi darurat yang berkaitan dengan keselamatan. Nah bila memang kita sangat harus pergi ke dokter di luar kondisi darurat tersebut, semisal untuk kontrol rutin suatu penyakit, ikutilah protokol kesehatan saat ini seperti menjaga jarak aman, gunakan masker dan faceshield, selalu mencuci tangan, gunakan handsanitizer, hindari menyentuh barang-barang yang tidak perlu, dan hindari menyentuh pada area wajah.

Daftar Pustaka

WHO. 2020. Transmission of SARS-CoV-2: Implication for infection prevention precautions, https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/transmission-ofsars-cov-2-implication-for-injection-prevention-precaution (diakses pada 16 Juli 2020). 

Leave a Reply