Hi ladies! Mengalami cairan becek atau berlebih dan bau disekitar Miss V? Memang tentunya  bisa menjadi masalah yang terkadang bikin minder. Sebenarnya ladies, cairan Miss V ini penting untuk menjaga keseimbangan bakteri baik dalam Miss V dan tentunya sebagai pelumas di sekitar  Miss V. Tentunya kita dapat menilai karakteristik dari cairan tersebut berdasarkan waktu, warna, konsistensi, bau dan adanya rasa gatal.  Produksi cairan Miss V yang normal sesuai dengan siklus datang bulan (menstruasi), yang dikenal dengan istilah leucorrhea. Cairan yang bening dan licin mirip dengan putih telur inilah yang normal sebelum datang bulan; kecuali jika berbau dan gatal. Hal ini dikarenakan adanya faktor hormon progesteron yang terlibat, serta di fase siklus lain, kadar estrogen yang tinggi membuat cairan yang terproduksi menjadi lebih bening dengan konsistensi seperti air.

Berbeda dengan cairan Miss V normal yang tentunya tidak mengganggu, cairan Miss V tidak normal biasanya punya karakteristik khusus seperti disertai rasa nyeri, perih dan gatal. Cairan Miss V yang tidak normal yang jelas dapat berupa berwarna abu-abu, kehijauan/kekuningan  serta bisa disertai rasa gatal. Penyebabnya banyak oleh bakteri (bacterial vaginosis), jamur (vaginal candidiasis), dan parasit penyebab infeksi menular seksual (trichomoniasis).

Ladies, seperti bagian saluran cerna, organ kewanitaaan Miss V dapat banyak dipengaruhi oleh  pola hidup, sanitasi, dan konsumsi makanan. Terlepas dari faktor sanitasi bersih di area Miss V, rupanya faktor makanan menjadi tidak bersahabat bila dikonsumsi berlebih. Lalu apa saja makanan yang perlu menjadi perhatian, Ladies?

  1. Probiotik

Bakteri yang kaya dengan produksi asam laktat terkandung dalam probiotik tersebut. Manfaat langsungnya dapat dirasakan terhadap keseimbangan kesehatan mikrobiota. Cairan Miss V yang tidak normal, memiliki jumlah bakteri lactobacilli yang lebih sedikit bila dibanding dengan wanita sehat. Penelitian menyebutkan konsumsi probiotik dalam jangka panjang memperbaiki kontrol bakteri penyebab penyakit Bacterial Vaginosis (BV). Tak hanya melindungi mikrobiota alami dari BV, asam laktat yang diproduksi oleh lactobacillus tersebut juga berfungsi sebagai bala tentara untuk mencegah pertumbuhan bakteri bukan flora normal.

  1. Makanan Berlemak Tinggi

Resiko bacterial vaginosis dua kali lebih tinggi pada wanita dengan konsumsi lemak jenuh yang tinggi. Kandungan lemak tinggi diperoleh dari susu, dessert dan ayam. Konsumsi lemak tinggi, khususnya lemak jenuh bisa mengubah pH dan mengganggu bakteri normal di Miss V.

  1. Junk Food dengan Karbohidrat Sederhana, dan Kadar Gula Tinggi (Roti dan Pasta)

Setidaknya 3 dari 4 wanita memiliki sedikitnya satu kali infeksi jamur candidiasis semasa hidupnya. Infeksi jamur candidiasis pada Miss V dipengaruhi oleh berbagai resiko misalnya kondisi diabetes dan konsumsi makanan dengan kadar gula tinggi.

Ingat ladies, sangatlah penting untuk mengkontrol konsumsi gula berlebih dari dessert dan minum-minuman dengan pemanis buatan. Mengapa? Karena pada penelitian tahun 2013, terdapat hubungan erat antara kadar gula darah tinggi dan kejadian candidiasis. Tingkat gula darah yang tinggi dapat menyebabkan jamur tumbuh secara berlebih, khususnya pada area Miss V. Penelitian tahun 2017 dapat membuktikan pertumbuhan jamur tersebut. Gula rafinasi dan gula yang kaya akan laktosa mendorong pertumbuhan jamur dengan menurunkan kadar pH (> 4,5).

  1. Sayur-sayuran dan Gandum 

       Ladies, kalian tentunya bisa menemukan kandungan betaine kaya di dalam gandum, sayur-sayuran, seafood, dan bayam. Kandungan betaine tersebut memiliki efek protektif  pada kesehatan lingkungan dan interaksi mikrobiota di dalam Miss V. Sisi positifnya berdampak dengan tumbuhnya bakteri lactobacillus dan bakteri produksi asam laktat lainnya.

Nah ladies, dengan anda lebih bijak memilih makanan, tentunya ‘cairan’ becek  di Miss V dapat terhindarkan. Jagalah Miss V, dan pastikan juga kebersihan Miss V dengan menjaga sirkulasi dan kondisi area agar tidak lembab. (TAN)

Referensi:

  1. https://www.womenshealthmag.com/health/a19909408/vaginal-ph-levels-and-food/
  2. Neggers, Y. H., Nansel, T. R., Andrews, W. W., Schwebke, J. R., Yu, K. F., Goldenberg, R. L., & Klebanoff, M. A. (2007). Dietary intake of selected nutrients affects bacterial vaginosis in women. The Journal of nutrition137(9), 2128–2133. https://doi.org/10.1093/jn/137.9.2128
  3. Thoma, M. E., Klebanoff, M. A., Rovner, A. J., Nansel, T. R., Neggers, Y., Andrews, W. W., & Schwebke, J. R. (2011). Bacterial vaginosis is associated with variation in dietary indices. The Journal of nutrition, 141(9), 1698–1704. https://doi.org/10.3945/jn.111.140541
  4. Tuddenham, S., Ghanem, K. G., Caulfield, L. E., Rovner, A. J., Robinson, C., Shivakoti, R., Miller, R., Burke, A., Murphy, C., Ravel, J., & Brotman, R. M. (2019). Associations between dietary micronutrient intake and molecular-Bacterial Vaginosis. Reproductive health, 16(1), 151. https://doi.org/10.1186/s12978-019-0814-6
  5. Mogha K V dan Prajapati J.B., 2016, ‘Probiotics for treating bacterial vaginosis’, Reviews in Medical Microbiology 2016, 27:87–94, DOI:10.1097/MRM.0000000000000080
  6. Bilodeau K, 2019, ‘Should you use probiotics for your vagina?’ diakses di https://www.health.harvard.edu/blog/should-you-use-probiotics-for-your-vagina-2019122718592
  7. Penn State Hershey,2017, Vaginitis diakses di http://pennstatehershey.adam.com/content.aspx?productid=111&pid=33&gid=000172
Leave a Reply