Tidak sembarang obat COVID layak digunakan sebagai dasar penanganan COVID. Meskipun banyak klaim, masih diperlukan banyak data valid untuk membuktikannya.

Virus COVID-19 baru muncul di akhir tahun 2019 di Wuhan, China. Hanya dalam 3 bulan saja, virus ini telah menyebar ke seluruh dunia, menyebabkan pandemi dan mengacaukan banyak sektor di hampir seluruh negara di dunia. Setiap penyakit baru pasti belum diketahui bagaimana pengobatan yang tepat untuk menyembuhkan orang-orang yang terinfeksi. Oleh karena itu negara-negara di dunia bersama-sama dan berlomba-lomba mencari tahu obat apa yang efektif digunakan untuk membunuh virus ini dan membuat orang yang terinfeksi bisa sehat kembali. Berbagai penelitian dilakukan mulai dengan cara yang paling ilmiah dan diteliti secara luas hingga penelitian sederhana; bahkan, percobaan asal-asalan yang diklaim sepihak bisa membunuh virus ini. Mungkin fenomena klaim asal-asalan sangat familiar bagi kita yang hidup di negara Indonesia. Pada artikel ini akan dibahas sedikit lebih dalam mengenai bagaimana perkembangan pengobatan penyakit COVID-19 di dunia yang menunjukkan ternyata tidak sembarang obat COVID layak digunakan.

Obat apa saja yang menjadi kandidat?

Penelitian yang dilakukan menggunakan obat maupun tindakan medis yang sudah pernah digunakan sebelumnya di dunia untuk pengobatan penyakit lain, salah satu contohnya adalah obat hydroxychloroquine/chloroquine yang sebelumnya merupakan obat penyakit malaria [2,3]. Tentunya pengobatan yang diteliti adalah yang telah memiliki dasar ilmiah yang jelas dalam pengobatan infeksi virus. Mungkin anda bertanya mengapa penyakit baru tidak dilakukan penelitian dengan membuat obat baru dan malah menggunakan obat lama? Jawabannya adalah karena untuk membuat obat baru perlu proses dan waktu yang panjang, paling cepat adalah 1 tahun. Sedangkan saat ini perlu segera ditemukan obat untuk mencegah angka kematian bertambah lebih besar. [1]

Bagaimana hasilnya?

Sejauh ini belum ada obat yang dinyatakan efektif untuk menyembuhkan orang yang terinfeksi virus COVID-19. Namun terdapat beberapa obat yang memberi hasil cukup menjanjikan untuk menjadi calon anti COVID-19. Sedangkan ada beberapa obat yang setelah diuji justru hasilnya merugikan karena memberi efek samping yang lebih besar dibanding manfaatnya, dengan kata lain obat – obat tersebut menunjukkan bahwa tidak sembarang obat COVID. Untuk itu, perkembangan terkini dari penelitian pengobatan COVID-19 digolongkan menjadi 5 kategori: [1]

1. Pengobatan yang rutin digunakan dan bermanfaat 

Kategori ini merupakan suatu tindakan medis yang sebelumnya sudah rutin digunakan pada penyakit-penyakit pernapasan lain dan terbukti efektif juga pada penyakit COVID-19. Terdapat 2 hal pada kategori ini. Pertama adalah penggunaan ventilator serta alat bantu nafas lainnya. Hal ini merupakan suatu bantuan dasar pada orang yang sesak nafas dan terbukti efektif dalam menyelamatkan orang-orang yang terinfeksi COVID-19 dengan gejala sedang hingga berat. Meskipun tidak semua yang diberi ventilator akan selamat, namun ventilator terbukti bisa mengurangi angka kematian pasien dengan gagal napas.[2]

Kedua adalah posisi prone, atau sebuah manuver yang menempatkan pasien berbaring dengan posisi telungkup. Hal ini diterapkan pada pasien dengan sesak nafas berat. Posisi ini terbukti bisa meningkatkan angka kesembuhan pasien dengan sesak nafas berat maupun yang sudah menggunakan ventilator. Posisi prone ini membuat paru-paru bagian belakang bisa terbuka dan membuat oksigen yang masuk bisa lebih banyak dibanding jika pasien tidur di posisi terlentang. Namun penggunaan manuver ini tetap ada syarat-syarat khusus yang perlu diperhatikan oleh ahlinya.[2]

2. Pengobatan dengan hasil yang menjanjikan,

Obat pada kategori ini bisa dibilang sebagai calon obat yang nantinya bisa rutin digunakan untuk penyakit COVID-19. Sampai saat ini hanya terdapat 2 obat yang sudah masuk pada kategori ini, yaitu: Dexamethasone dan Remdesivir [1,2]. Dexamethasone sempat diberitakan oleh beberapa media mainstream di Indonesia dengan headline dan konteks yang tidak tepat, seolah-olah obat ini bisa digunakan oleh semua pasien COVID-19. Namun berdasarkan sumber aslinya, yaitu dari tim RECOVERY Trial di Inggris, mereka menyatakan bahwa obat ini hanya efektif pada pasien dengan gejala berat yang diberi ventilator maupun alat bantu nafas lain dan tidak efektif pada pasien dengan gejala ringan yang tidak memerlukan bantuan oksigen.

Pada dasarnya obat ini bukanlah suatu antivirus, melainkan obat yang menekan kekebalan tubuh seseorang. Obat ini hanya bermanfaat jika kekebalan tubuh seseorang bereaksi berlebihan terhadap penyakit, dan inilah yang terjadi pada pasien COVID-19 dengan gejala berat. Sedangkan pada gejala ringan dan sedang tidak terjadi reaksi kekebalan tubuh yang berlebihan sehingga penggunaan obat ini malah akan berakibat buruk karena kekebalan tubuh diperlukan untuk melawan virus.[4]

Remdesivir merupakan suatu antivirus yang sebelumnya diuji untuk penyakit Ebola dan Hepatitis C. Penggunaan obat ini juga hanya melalui injeksi ke dalam pembuluh darah dengan cara yang khusus. Berbagai penelitian dengan jumlah sampel yang besar yang dikerjakan di Amerika, Inggris dan oleh WHO di berbagai negara lain melalui Solidarity Trial menunjukkan hasil yang menjanjikan dari obat ini. Obat ini berdampak signifikan dalam mengurangi durasi pasien COVID-19 dirawat di rumah sakit  dan juga mengurangi angka kematian pasien COVID-19. [2,3,5]

3. Pengobatan yang masih perlu diteliti lebih lanjut

Obat-obat pada kategori ini merupakan obat yang belum menunjukkan hasil yang jelas pada manusia. Beberapa telah diuji di laboratorium dengan hasil yang baik, dan ada beberapa juga yang telah diuji pada manusia namun belum menunjukkan hasil yang seragam dari berbagai penelitian yang ada sehingga perlu penelitian yang lebih besar lagi. Obat di kategori ini bisa saja di kemudian hari masuk ke kategori yang menjanjikan jika terbukti memberi manfaat besar atau malah masuk ke kategori yang tidak bermanfaat jika ternyata hasilnya kurang efektif. [1]

Pada kategori ini terdapat banyak obat, antara lain: Favipiravir (Avigan), EIDD-2801, Recombinant ACE-2, plasma convalescence, interferon, cytokine inhibitor, Cytosorb, stem Cell, Antikoagulan, Vitamin C, Vitamin D dan Zinc [1,2].  Beberapa di antara pengobatan tersebut ada yang pernah menjadi perbincangan di media Indonesia, yaitu Favipiravir (Avigan) yang diimpor besar-besaran dari Jepang oleh pemerintah Indonesia pada akhir Maret lalu dan terapi plasma yang sempat viral di media sosial. Ternyata kedua pengobatan tersebut masih diteliti dan masih diragukan keefektifannya dalam mengobati COVID-19.

4. Pengobatan yang telah dinyatakan tidak bermanfaat

Penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa obat pada kategori ini tidak memberikan manfaat dalam menyembuhkan pasien COVID-19. Terdapat 2 obat yang masuk kategori ini, yaitu: Lopinavir-Ritonavir dan hydroxychloroquine/chloroquine. Kedua obat tersebut merupakan bagian dari obat yang diteliti oleh WHO dalam Solidarity Trial, yaitu suatu penelitian multicenter mengenai pengobatan COVID-19 dengan jumlah sampel yang sangat besar dan mulai dikerjakan sejak bulan April 2020. Penelitian multicenter adalah penelitian yang melibatkan banyak rumah sakit besar yang menjadi pusat rujukan di suatu negara. WHO Solidarity Trial ini melibatkan 21 negara di dunia, termasuk Indonesia. Terdapat 5 pengobatan yang diuji yaitu hydroxychloroquine/chloroquine, Lopinavir-Ritonavir, Remdesivir, Lopinavir-Ritonavir dikombinasikan dengan interferon, dan pengobatan standar tanpa antivirus. [3]

Pada tanggal 4 Juli 2020, WHO mengumumkan bahwa pengobatan dengan Lopinavir-Ritonavir dan hydroxychloroquine/chloroquine tidak lebih efektif jika dibandingkan dengan pengobatan standar, malah lebih baik hasil dari pengobatan standar. Sehingga sejak saat itu WHO memutuskan untuk menghapus 2 pengobatan tersebut dari Solidarity Trial. National Institute of Health (NIH) juga melakukan penelitian multicenter di Amerika terhadap kedua obat ini sekaligus menguji kombinasi obat hydroxychloroquine/chloroquine dan Azithromycin. Kombinasi ini pernah diklaim oleh salah satu universitas di Indonesia bersama BIN sebagai obat COVID-19. Saat ini NIH telah menyimpulkan dan sepakat bahwa kedua obat tersebut beserta kombinasi hydroxychloroquine/chloroquineAzithromycin tidak disarankan untuk pengobatan pasien COVID-19.[6]

5. Pengobatan yang tidak ilmiah dan menyesatkan

Pada kategori ini pengobatan yang diklaim bisa menyembuhkan COVID-19 biasanya berupa sebuah spekulasi tidak berdasar dan tidak ada metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Bila mau disebut satu persatu mungkin kategori ini paling banyak. Berikut adalah beberapa contoh yang bisa saya berikan. Presiden Donald Trump pernah memberi saran beberapa cara berikut: meminum dan menyuntikkan cairan desinfektan atau cairan pemutih pada seseorang, dan menggunakan sinar UV. Meminum cairan desinfektan merupakan suatu hal yang berbahaya karena bisa menjadi racun dan malah merusak saluran cerna. Sinar UV memang dipakai digunakan sebagai alat sterilisator, namun sinar UV tidak akan bisa membunuh virus yang telah masuk ke dalam tubuh manusia dan malah berbahaya bagi kulit, karena bisa menyebabkan kanker. Berikutnya, seorang televangelist di Amerika, yaitu Jim Bakker pernah juga menyatakan untuk menggunakan perak. Beberapa metal secara natural memiliki kemampuan antimikroba, namun tidak ada produk perak yang terbukti bisa mencegah atau menyembuhkan penyakit COVID-19.[1] Contoh-contoh tersebut merupakan beberapa contoh yang sempat viral di Amerika. Dan di artikel sebelumnya, Alina telah membahas terkait tahap penemuan obat untuk COVID-19.

Lalu, bagaimana dengan yang di Indonesia? Kali ini giliran anda yang mengungkapkannya di kolom komentar terkait artikel tidak sembarang obat COVID layak digunakan. (EGI)

 *Pembahasan pada artikel ini sesuai kondisi terkini pada tanggal artikel ditulis (25/7/2020), jika anda mau mengikuti perkembangan terkini pengobatan dari COVID-19 anda bisa mengakses sumber pustaka no [1] atau no [2]

Referensi

1. Corum J, Wu KJ, Zimmer C. Coronavirus Drug and Treatment Tracker. The New York Times [Internet]. 2020 Jul 20; Available from: https://www.nytimes.com/interactive/2020/science/coronavirus-drugs-treatments.html

2. National Institute of Health. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Treatment Guidelines [Internet]. 2020 [cited 2020 Jul 25]. Available from: https://www.covid19treatmentguidelines.nih.gov/

3. World Health Organization. “Solidarity” clinical trial for COVID-19 treatments [Internet]. 2020 [cited 2020 Jul 25]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/global-research-on-novel-coronavirus-2019-ncov/solidarity-clinical-trial-for-covid-19-treatments

4. The RECOVERY Collaborative Group. Dexamethasone in Hospitalized Patients with Covid-19 — Preliminary Report. N Engl J Med [Internet]. 2020 Jul 17;NEJMoa2021436. Available from: http://www.nejm.org/doi/10.1056/NEJMoa2021436

5. Beigel JH, Tomashek KM, Dodd LE, Mehta AK, Zingman BS, Kalil AC, et al. Remdesivir for the Treatment of Covid-19 — Preliminary Report. N Engl J Med. 2020;1–12.

6. World Health Organization. WHO discontinues hydroxychloroquine and lopinavir/ritonavir treatment arms for COVID-19. WHO News Room [Internet]. 2020 Jul 4; Available from: https://www.who.int/news-room/detail/04-07-2020-who-discontinues-hydroxychloroquine-and-lopinavir-ritonavir-treatment-arms-for-covid-19

Leave a Reply