“Aku kemarin nyeri kok dikasih obat yang sama kaya obat gatal ibuku ya ?” Katanya obat ini adalah kortikosteroid “si obat dewa. “Ini resepnya bener apa ga sih ?”.

Bagi kalian yang sangat teliti setiap berobat ke dokter, mungkin kejadian tersebut sering kalian alami ya dan tentunya membuat penasaran sebenarnya obat ini untuk penyakit apa sih. Golongan obat ini dalam ranah medis kerap dikenal sebagai obat segala penyakit. Benar sekali, Kortikosteroid, si obat dewa.

Golongan obat kortikosteroid dikenal memiliki manfaat yang luas, namun penggunaan yang tidak tepat dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan berbagai efek samping. Lalu bagaimanakah penggunaan steroid yang tepat ?

Sebenarnya kortikosteroid itu obat apa ?

Kortikosteroid adalah kelas hormon steroid yang diproduksi oleh kelenjar anak ginjal yang meliputi glukokortikoid dan mineralokortikoid. Namun, istilah “kortikosteroid” umumnya digunakan untuk merujuk pada glukokortikoid. Karena efeknya dalam metabolisme karbohidrat, glukokortikoid mengatur beragam fungsi sel termasuk metabolisme dan supresor imun yang kuat. Efek inilah yang menyebabkan turunan sintetis dari molekul kortikosteroid digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit inflamasi dan autoimun yang menjadikannya salah satu obat yang paling banyak diresepkan di dunia dengan perkiraan penjualan bernilai lebih dari USD 10 miliar per tahun [1].

Bentuk sediaan kortikosteroid berupa tablet, sirup, injeksi, inhaler, spray, krim, lotion, tetes mata, dan tetes telinga. Kortikosteroid tersedia dalam beberapa jenis. Biasanya dalam kemasan obat yang mengandung kortikosteroid dituliskan jenis-jenis kortikosteroid seperti Prednisolone, Methylprednisolone, Dexametasone, Beclometasone, Fluticasone, Hydrocortisone dalam berbagai merek dagang [2].

Apa saja sih penyakit yang bisa diobati dengan kortikosteroid ?

Kortikosteroid, si obat dewa, menyebabkan penurunan reaksi inflamasi dan menurunkan aktivitas sistem imun  sehingga menjadi andalan klinis untuk pengobatan berbagai penyakit inflamasi dan autoimun dari ujung kepala hingga ujung kaki seperti :

  1. Asma
  2. Alergi
  3. Eksim kulit
  4. Penyakit radang usus/Crohn’s disease
  5. Multiple sclerosis
  6. Lupus
  7. Autoimmune haemolytic anemia
  8. Sindroma nefrotik
  9. Vaskulitis/radang pembuluh darah
  10.  Radang sendi/rheumatoid arthritis
  11. Menurunkan pembengkakan di otak akibat tumor otak
  12. Menurunkan pembengkakan akibat saraf terjepit

Hal inilah yang menyebabkan kortikosteroid pantas disebut sebagai obat dewa dalam artian mampu mengobati berbagai macam penyakit [1,2,3].

Kira-kira efek samping apa ya yang bisa timbul akibat penggunaan kortikosteroid ?

               Sayangnya, manfaat terapi kortikosteroid dibatasi oleh efek samping merugikan yang terkait dengan pemakaian dosis tinggi dalam jangka waktu sangat lama seperti pada pengobatan penyakit autoimun [2]. Selain itu, regulasi pembelian obat yang masih lemah menyebabkan kortikosteroid mudah didapatkan bahkan dijual bebas. Hal ini tentunya menyebabkan peningkatan penggunaan kortikosteroid tanpa anjuran dosis dan durasi yang tepat dari dokter sehingga dapat menimbulkan berbagai efek samping bagi pemakainya.

Efek samping yang dapat timbul dari penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dan jangka panjang adalah [2,4]

  1. Osteoporosis
  2. Atrofi kulit
  3. Kencing manis
  4. Darah tinggi
  5. Peningkatan berat badan
  6. Glaukoma
  7. Katarak
  8. Mudah terserang berbagai macam infeksi
  9. Perdarahan saluran cerna
  10. Penyembuhan luka terhambat
  11. Perubahan mood
  12. Sulit tidur
  13. Jerawat
  14. Wajah bengkak
  15. Gangguan menstruasi

Tenang, jika penggunaan kortikosteroid, si obat dewa, hanya dalam waktu singkat dan dengan dosis yang tepat, kemungkinan timbulnya efek samping tersebut sangat rendah [4]. Pada penyakit yang mengharuskan pengobatan kortikosteroid dosis tinggi atau jangka panjang, tentu dokter sudah memberikan penjelasan dan peringatan kemungkinan timbulnya efek samping sehingga dapat diantisipasi.

Self-care tips !!

Secara umum, tips yang dapat kalian lakukan untuk meminimalkan efek samping kortikosteroid adalah

  1. Gunakan kortikosteroid sesuai indikasi dari dokter. Jangan mendiagnosis penyakit sendiri, jangan membeli obat tanpa resep dokter
  2. Gunakan obat sesuai anjuran dokter
  3. Pilihlah bentuk sediaan steroid topikal untuk penyakit pada kulit, mata, hidung, telinga (contoh : sediaan krim, lotion, inhaler, spray, tetes mata, tetes telinga)

Bagi kalian yang diharuskan mengkonsumsi kortikosteroid, si obat dewa, dalam jangka panjang terkait penyakit yang diderita, berikut adalah solusi untuk meminimalkan efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan kortikosteroid jangka panjang [5]

  1. Waspada terhadap efek samping yang mungkin timbul dengan melakukan cek kesehatan berkala (kontrol rutin berat badan, tekanan darah, gula darah, kepadatan tulang, kesehatan mata)
  2. Turunkan dosis secara bertahap sesuai anjuran dokter
  3. Jaga kebersihan diri dan lingkungan, serta jika mungkin pertimbangkan untuk dilakukan vaksinasi untuk menurunkan risiko infeksi
  4. Konsumsi obat kortikosteroid tablet setelah makan atau bersama obat antasida untuk mengurangi iritasi perut
  5. Konsumsi suplmen kalsium dan berjemur di bawah sinar matahari untuk menurunkan risiko efek samping osteoporosis
  6. Hindari rokok dan alkohol selama pengobatan
  7. Konsultasikan dengan dokter terkait obat lain yang dikonsumsi selama pengobatan kortikosteroid untuk mengantisipasi reaksi antar obat dan efek samping

Jadi, jangan bingung lagi ya kalo memang nyeri sendi kok dikasih obat yang sama buat penyakit gatal/alergi, bahkan ada yang mengobati COVID-19 dengan kortikosteroid [5]. (MIF)

Referensi

  1. Ramamoorthy, S. and Cidlowski, J., 2016. Corticosteroids. Rheumatic Disease Clinics of North America, [online] 42(1), pp.15-31. Tersedia di: (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4662771/) [Di akses pada 10 Februari 2021].
  2. Nhs.uk. 2021. Steroids. [online] Tersedia di: (https://www.nhs.uk/conditions/steroids/) [Di akses pada 10 Februari 2021].
  3. Cleveland Clinic. 2021. Corticosteroids. [online] Tersedia di: (https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/4812-corticosteroids) [Di akses pada 10 Februari 2021].
  4. Fields, T., 2019. Steroid Side Effects: How to Reduce Corticosteroid Side Effects. [online] Hospital for Special Surgery. Tersedia di: (https://www.hss.edu/conditions_steroid-side-effects-how-to-reduce-corticosteroid-side-effects.asp) [Di akses pada 10 Februari 2021].
  5. Yunanta, Kolegia. 2020. Tidak Sembarang Obat COVID-19 Ternyata Layak. Tersedia di (https://alinamed.com/blog/index.php/2021/01/20/tidak-sembarang-obat-covid/) [diakses pada 10 Februari 2021]
1 Comment
Leave a Reply