Mata adalah jendela dunia, namun bagaimana jika anak terkena mata minus?  Tentunya bunda tidak mau bukan? Kali ini Alina akan membahas lebih dekat mengenai mata minus pada anak sehingga bunda tidak perlu panik.

Terdapat banyak kelainan mata pada anak, salah satu yang paling sering ialah mata minus atau miopia. WHO memperkirakan bahwa 246 juta orang di seluruh dunia memiliki ganguan penglihatan yang meliputi ametropia (miopia, hipemetropia atau astigmatisme) sebesar 43 %, katarak 33 %, glaukoma 2 % [1]. Data WHO tahun 2010 didapatkan prevalensi miopia di dunia sebesar 27% dan 2,8% untuk miopia tinggi[2].

Apa sih mata minus/ miopia?

Mata minus atau yang sering disebut dengan rabun jauh atau juga miopia adalah keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan untuk melihat jarak jauh[3]. Pada mata dengan miopia, cahaya yang memasuki mata terfokus di depan retina sehingga membuat objek yang jauh terlihat kabur[1]. Menurut WHO, miopia pada remaja paling sering terjadi pada anak perempuan daripada anak laki-laki, dengan perbandingan perempuan terhadap laki-laki 1,4 : 1[2].

Miopia bersifat progresif pada masa anak-anak dan cenderung stabil ketika mereka mencapai usia 20 tahun atau akhir remaja. Berbagai faktor dapat mempengaruhi progresivitas miopia pada usia sekolah, yakni faktor keturunan dan lingkungan.  Seorang anak yang salah satu orang tuanya menderita miopia akan memiliki risiko dua kali lebih tinggi. Sedangkan bila kedua orang tuanya menderita miopia, maka risikonya sebesar delapan kali lebih tinggi daripada anak dengan orang tua yang tidak menderita miopia. Faktor lingkungan seperti aktivitas di luar, bekerja dengan jarak dekat, dan pendidikan akan mempengaruhi miopia[2].

Gejala miopia pada anak[3]

  • Sering memincingkan mata jika melihat benda yang jauh
  • Sakit kepala
  • Rasa lelah di mata ketika melihat benda yang jauh beberapa meter didepan
  • Rasa tegang pada mata
  • Mata juling

Penanganan miopia pada anak

Kacamata

Salah satu terapi yang tidak asing bagi masyarakat adalah penggunaan kacamata yang sesuai dengan kondisi minus pada mata[3]. Penggunaan kacamata pada anak terbilang cukup aman dibandingkan dengan metode penanganan yang lain. Namun, kelemahan dari kacamata ialah penggunaanya yang cukup menganggu saat melakukan aktivitas seperti olahraga.

Softlens

Cara lain untuk menangani mata minus pada anak adalah dengan menggunakan softlens. Bentuknya yang lembut dan dipasangkan ke mata akan sangat membantu anak melakukan aktivitas dengan intensitas yang tinggi seperti olahraga. Tetapi, penggunaan soflens harus disertai dengan hygiene yang baik. Pembersihan softlens harus dilakukan dengan kondisi tangan yang bersih dan menggunakan cairan khusus.

Bedah refraktif

Bedah Refraktif dapat dilakukan sebagai pilihan penanganan mata minus. Metode ini menggunakan sinar laser untuk mengobati kelainana mata minus. Sayangnya metode ini hanya bisa dilakukan pada usia lebih dari 17 tahun. Hal ini disebabkan karea asumsi sudah tidak ada pertumbuhan miopi pada usia 17 tahun[4]

Pencegahan miopia

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah mata minus:

  • Mengonsumsi sayur-mayur dan buah-buahan yang mengandung vitamin A seperti; brokoli, wortel, kangkung, bayam, pepaya, dan lain-lain[3][5]
  • Membaca ditempat yang cukup penerangannya. Intensitas cahaya yang tinggi juga dapat mempengaruhi tingkat keparahan myopia karena mempengaruhi bekerjanya pupil dan lensa mata[2]
  • Menjaga aktivitas melihat dekat dalam waktu yang lama tanpa istirahat
  • Melakukan aktivitas outdoor seperti olaharaga. Vitamin D yang didapat ketika melakukan aktivitas luar ruangan memiliki peran dalam pembentukan kolagen dimana merupakan komponen utama sklera[1].
  • Menjaga jarak baca. Membaca dengan jarak dekat(<30cm) akan 0,18 kali meningkatkan dioptri miopia remaja dibandingkan yang membaca dengan jarak cukup (≥30 cm)[1].
  • Melakukan pemeriksaan mata dengan rutin, minimal 1 kali setahun

Jika tidak ditangani sejak dini, mata minus dapat membuat dampak yang lebih buruk di masa depan, seperti minus yang bertambah berat sampai kebutaan. Oleh karena itu orang tua sebaiknya memperhatikan kesehatan mata anak dengan menerapkan upaya pencegahan (BIL). 

Referensi:

  1. Sofiani, A., Santik, Y., 2016,Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Derajat Miopia Pada Remaja (Studi Di Sma Negeri 2 Temanggung Kabupaten Temanggung), Unnes Journal of Public Health, http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph (dilihat 26 Maret 2021).
  2. Wulansari,  Dewi., et al., 2018, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Miopia Pada Anak Sd Di Daerah Perkotaan Dan Daerah Pinggiran Kota, Jurnal Kedokteran Diponegoro, Vol.7, No.2 (947-961), https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico (dilihat 26 Maret 2021).
  3. Ciputra SMG Eye Clinic, Mata Minus / Rabun jauh (Miopia) : Gejala, Pencegahan, Penanganan dan Perawatan, https://ciputrasmgeyeclinic.com/mata-minus-miopia-gejala-pencegahan-penanganan-dan-perawatan/ (dilihat 26 Maret 2021).RSUP Dr. Sardjito,
  4. Waspada Resiko Mata Minus pada Anak, Informasi Kesehatan
  5. Izzati, Nabila, 2021, Sering Sepelehkan Sarapan Pagi? Yuk Cek 5 Manfaatnya!, https://alinamed.com/blog/index.php/2021/02/15/sering-sepelehkan-sarapan-pagi-yuk-cek-5-manfaatnya/ (dilihat 26 Maret 2021).
Leave a Reply