Pengertian Rabun Dekat

Rabun dekat atau hipermetropia atau bisa juga disebut hiperopia merupakan kelainan pembiasan sinar pada mata sehingga sinar tidak difokuskan tepat pada retina namun jatuh di belakang retina[1,2]. Hipermetropia menyebabkan seseorang bisa melihat jauh dengan jelas namun benda yang dekat tidak terlihat dengan jelas atau kabur[3]. Rabun dekat terutama menyerang usia lanjut dengan prevalensi 10% pada usia di atas 60 tahun[1]. Namun rabun dekat juga dapat terjadi pada anak-anak dan berdasarkan penelitian di Inggris, nilai IQ (intelligence quotient) pasien rabuh dekat lebih rendah daripada pasien rabun jauh[4].

Gejala Rabun Dekat

Gejala yang bisa dirasakan penderita hipermetropia antara lain[1,2,3,4]:

  • Penglihatan kurang jelas saat melihat dekat
  • Sakit kepala terutama saat melihat dekat misalnya ketika melihat layar handphone, melihat televisi, atau membaca koran
  • Mata lelah
  • Mata berair
  • Gatal pada mata
  • Sensitif terhadap sinar
  • Tegang mata atau eye strain terutama bila melihat pada jarak yang tetap dan lama.
  • Sakit kepala
  • Sering menggosok mata
  • Mengalami gangguan saat membaca atau tidak memiliki minat untuk membaca

Penyebab Rabun Dekat

Rabun dekat disebabkan karena diameter depan dan belakang mata menjadi memendek sehingga bayangan jatuh di belakang retina. Selain itu rabun dekat juga dapat disebabkan karena kelemahan otot mata, kelengkungan kornea kurang dari normal, adanya perubahan pada indeks refraksi misalnya pada pasien diabetes melitus, serta adanya trauma yang menyebabkan posisi lensa lebih ke belakang[3,4].

Faktor Risiko Rabun Dekat

Beberapa faktor risiko yaitu adanya trauma, pendorongan tumor belakang mata, adanya riwayat keluarga yang menderita rabun dekat. Selain itu ibu yang merokok ketika hamil juga menjadi faktor risiko hipermetropia pada anak-anak[1,5].

Diagnosis Rabun Dekat

Hipermetropia dapat didiagnosis melalui keluhan seperti penglihatan kurang jelas saat melihat dekat, sakit kepala terutama daerah depan dan makin kuat pada penggunaan mata yang lama dan membaca dekat. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan menggunakan Snellen Chart serta pemeriksaan refraksi dengan trial lens dan trial frame[2].

Pengobatan

Hipermetropia dapat dikoreksi menggunakan lensa cembung atau kacamata positif terkuat yang menghasilkan tajam penglihatan terbaik, bisa menggunakan kacamata atau lensa kontak. Pembedaan refraktif atau operasi dilakukan ketika mata telah stabil dan pertumbuhan mata telah berhenti, biasanya terjadi pada dekade ketiga. Pilihan operasi yang bisa dilakukan misalnya laser termal keratoplasi, keratoplasti konduktif, keratotomi heksagonal, dan lainnya[2,3,4].

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Tidak merokok selama hamil
  • Periksa mata secara reguler untuk deteksi dini
  • Mengontrol darah tinggi dan diabetes melitus dengan baik
  • Mencegah trauma pada mata misalnya dengan menggunakan pelindung mata ketika bekerja
  • Memakan makanan bergizi dengan memakan sayur, buah dan makanan yang kaya omega-3 seperti tuna dan salmon
  • Memakai penerangan cukup ketika membaca juga merupakan cara untuk menjaga kesehatan mata
  • Melakukan aturan 20-20-20 untuk mengurangi mata tegang, caranya yaitu setelah melakukan kegiatan seperti melihat komputer atau melihat dekat selama 20 menit, harus mengistirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat 20 kaki atau setara dengan 6 meter.

Ketika sudah didiagnosis rabun dekat maka harus menggunakan kacamata karena jika tidak maka mata akan berakomodasi terus menerus dan menyebabkan komplikasi misalnya glaukoma, amliopia atau mata malas pada anak, dan estropia atau mata juling[2,4,6,7]. Oleh karena itu, sebaiknya anda melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi komplikasi(DIA).

Referensi:

  1. Liwang F, Yuswar PW, Wijaya P, Sanjaya NP. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 5 Jilid II. 2020. Jakarta: Media Aesculapius
  2. Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. 2017. Jakarta
  3. Upadhyay S. Myopia, Hyperopia and Astigmatism: A Complete Review with View of Differentiation. International Journal of Science and Research (IJSR). 2015:4(8);125-129
  4. Majumdar S, Tripathy K. Hyperopia. [Updated 2021 Feb 14]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560716/
  5. Jiang X, Tarczy-Hornoch K, Stram D, et al. Prevalence, Characteristics, and Risk Factors of Moderate or High Hyperopia among Multiethnic Children 6 to 72 Months of Age: A Pooled Analysis of Individual Participant Data. Ophthalmology. 2019;126(7):989-999. doi:10.1016/j.ophtha.2019.02.021
  6. Bergen T. Farsightedness. 2017. Tersedia di: https://www.healthline.com/health/farsightedness [Diakses 10 Juli 2021]
  7. Mayo Clinic. Farsigjtedness. 2020. Tersedia di https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/farsightedness/diagnosis-treatment/drc-20372499 [Diakses 10 Juli 2021]
  8. Izzati N. Yuk Kenali Lebih Dekat Mata Minus Pada Anak!. 2021. Alinamed. Tersedia di https://alinamed.com/blog/index.php/2021/07/08/yuk-kenali-lebih-dekat-mata-minus-pada-anak/ [Diakses 10 Juli 2021]
Leave a Reply