Masyarakat seringkali membicarakan mata minus atau rabun jauh, namun ada satu kondisi yang berbeda dari mata minus, yakni mata silinder atau astigmatisme, yuk lihat penjelasannya!

Pengertian Astigmatisme

Astigmatisme atau mata silinder adalah kelainan pada mata yang disebabkan oleh perubahan kelengkungan pada kornea atau lensa mata. Pada penderita mata silinder permukaan kornea atau lensa berubah menjadi bergelombang yang menyebabkan penurunan penglihatan baik jarak jauh maupun jarak dekat. Astigmatisme pada orang dewasa lebih mudah untuk diketahui karena penderita dapat langsung merasakan perubahan pada penglihatannya. Sedangkan, pada anak-anak lebih susah untuk dideteksi. Astigmatisme pada anak yang tidak dikoreksi dengan baik dapat menyebabkan gangguan pada aktivitas dan prestasi anak1.

Gejala Astigmatisme

Gejala yang muncul dapat bervariasi pada setiap orang, diantaranya adalah1 :

  • penglihatan kabur
  • rasa nyeri pada mata
  • nyeri kepala
  • menyipitkan mata untuk melihat jelas
  • rasa tidak nyaman pada mata

Penyebab Astigmatisme

Lensa dan kornea mata berfungsi untuk membiaskan bayangan yang diterima mata agar jatuh tepat pada retina mata. Pada penderita mata silinder, permukaan lensa atau kornea mata tidak rata yang menyebabkan bayangan yang diterima berada di depan dan dibelakang retina mata. Sehingga, penderitamata silinder akan merasa pandangan dekat dan jauhnya kabur1. Penyebab tidak ratanya permukaan lensa atau kornea mata ini banyak diduga karena faktor keturunan, komplikasi penyakit mata lainnya, serta trauma pada mata seperti riwayat operasi yang dapat menyebabkan perubahan struktur mata2.

Faktor resiko Astigmatisme :

Selain karena adanya faktor kongenital dan trauma pada mata, menurut penelitian beberapa hal berikut mempengaruhi faktor risiko terjadinya astigmatisme3 :

  • Penderita gangguan refraktif mata seperti miopi dan hipermetropi mempunyai kecenderungan lebih besar untuk mengalami mata silinder.
  • Bayi usia kurang dari 12 bulan mempunyai resiko mengalami mata silinder daripada anak-anak usia 5-6 tahun.
  • Ras/etnis hispanik dan Afrika-Amerika mempunyai resiko mengalami mata silinder lebih besar daripada ras non-hispanik.
  • Anak-anak dengan riwayat ibu merokok saat kehamilan meningkatkan resiko mata silinder.

Diagnosis Astigmatisme

Dokter akan memeriksa mata secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosis astigmatisme, yakni :

  1. Tes ketajaman penglihatan/refraksi, dokter akan meminta penderita untuk membaca huruf dan angka pada sebuah kartu yang diletakkan beberapa meter di depan penderita.
  2. Pemeriksaan menggunakan phoropter, dokter akan meminta penderita untuk menggunakan beberapa lensa dan menanyakan lensa mana yang paling memperjelas penglihatan.
  3. Autorefractor, yakni alat yang digunakan untuk menentukan lensa koreksi yang dibutuhkan.
  4. Pemeriksaan Corneal Topography, dengan menggunakan keratometer untuk menentukan kelengkungan kornea.

Penanganan

Penanganan astigmatisme tergantung dengan derajat keparahan pada pasien. Pasien dengan derajat kurang dari 0,5 Dioptri biasanya tidak memerlukan penanganan4. Astigmatisme yang berat dan mengganggu penglihatan perlu dilakukan penanganan, terdapat dua jenis penanganan astigmatisme yakni non-operatif dan operatif 5 :

  1. Penanganan Non-operatif

Astigmatisme umumnya dikoreksi dengan penggunaan kacamata atau lensa kontak. Dokter akan meresepkan kacamata silinder yang sesuai dengan hasil pemeriksaan refraksi. Lensa kontak juga menjadi pilihan untuk mengoreksi astigmatisme, baik rigid contact lens maupun soft contact lens dapat digunakan.

  1. Penanganan Operatif

Tindakan operatif menjadi pilihan untuk pasien dengan keparahan yang tinggi. Beberapa tindakan operatif yang dapat dilakukan yakni :

  • Operasi penggantian lensa mata dengan lensa buatan/Intraocular Lens(IOL)
  • Operasi refraksi kornea menggunakan laser, seperti laser-in-situ keratomileusis (LASIK) dan photorefractive keratectomy (PRK).

Dokter akan mendiskusikan pilihan terapi yang sesuai dengan hasil pemeriksaan yang ada serta kenyamanan penderita. 

Pencegahan

Tidak ada pencegahan pasti untuk astigmatisme, karena penyakit mata ini didasari oleh kelainan bawaan. Namun, mencegah mata untuk mengalami trauma dapat mengurangi resiko terjadinya astigmatisme. (IMA)

Referensi:

  1. Boyd K, Edmond JC. (2021). Astigmatism. American Academy of Ophthalmology. EyeSmart® Eye health. https://www.aao.org/eye-health/diseases/astigmatism-4.  [Diakses tanggal 10 Juli 2021].
  2. Yanoff, M. and Cameron, D., (2012), Diseases of the Visual System. Goldman’s Cecil Medicine, [online] pp.2426-2442. Tersedia di: https://doi.org/10.1016/B978-1-4377-1604-7.00431-0  [Diakses 10 Juli 2021].
  3. McKean-Cowdin, R., Varma, R., Cotter, S., Tarczy-Hornoch, K., Borchert, M., Lin, J., Wen, G., Azen, S., Torres, M., Tielsch, J., Friedman, D., Repka, M., Katz, J., Ibironke, J. and Giordano, L., (2011). Risk Factors for Astigmatism in Preschool Children. Ophthalmology, [online] 118(10), pp.1974-1981. Tersedia di: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0161642011006105  [Diakses 10 Juli 2021].
  4. Villegas, E., Alcón, E. and Artal, P., (2014). Minimum amount of astigmatism that should be corrected. Journal of Cataract and Refractive Surgery, [online] 40(1), pp.13-19. Tersedia di: https://doi.org/10.1016/j.jcrs.2013.09.010  [Diakses 10 Juli 2021].
  5. Read, S., Vincent, S. and Collins, M., (2014). The visual and functional impacts of astigmatism and its clinical management. Ophthalmic and Physiological Optics, [online] 34(3), pp.267-294. Tersedia di: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/opo.12128  [Diakses 10 Juli 2021].
  6. Izzati, Nabila. 2021. Yuk, Kenali Lebih Dekat Mata Minus pada Anak!. Alinamed. https://alinamed.com/blog/index.php/2021/07/08/yuk-kenali-lebih-dekat-mata-minus-pada-anak/  Diakses pada 10 Juli 2021.
Leave a Reply