Pengertian Epilepsi

Epilepsi atau penyakit ayan merupakan salah satu penyakit saraf yang terbanyak di dunia. Terdapat sekitar 70 juta penduduk dunia mengidap penyakit ayan.[1] Penyakit ini adalah gangguan sistem saraf pusat pada otak akibat adanya aktivitas listrik yang tidak normal. Perubahan keseimbangan zat kimia pada otak, adanya kelainan jaringan otak dapat menjadi alasan perubahan pola aktivitas listrik otak. Penyakit ini termasuk dalam penyakit kronis, yaitu berlangsung dalam waktu yang lama dan muncul kekambuhan. Setidaknya terdapat kejadian kejang dua kali dalam 24 jam tanpa provokasi bisa dikatakan sebagai epilepsi.[2]

Faktor resiko Epilepsi[5,6]

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang menderita penyakit ayan adalah:

  • Genetik, riwayat keluarga yang memiliki epilepsi
  • Usia, meski epilepsi dapat menyerang semua usia, namun paling banyak pada usia anak-anak
  • Riwayat cedera pada otak, adanya kejadian traumatik dapat menimbulkan kerusakan pada bagian jaringan otak
  • Penyakit kronis, infeksi yang menyebabkan peradangan pada otak dan sumsum tulang dapat meningkatkan resiko penyakit ini
  • Penyakit degeneratif, demensia pada lansia merupakan salah satu faktor terjadinya epilepsi pada usia lanjut.

Gejala Epilepsi

Gejala penyakit ayan bisa bervariasi dan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Kejang merupakan gejala utama pada penyakit ayan. Sebagian besar pada pengidap epilepsi memiliki karakter kejang yang sama setiap periodenya. Sebelum muncul kejang, bisa  disertai dengan kesemutan, pusing, atau melihat kilatan cahaya.[2,3] Kejang pada umumnya dibagi menjadi kejang umum dan kejang fokal

  • Kejang umum, ialah kejang seluruh tubuh akibat ketidaknormalan pada seluruh area otak. Ada beberapa pembagian jenis kejang umum berdasar jenis kejangnya : absans (bengong), tonik (kaku), klonik (kelojotan), mioklonik (kontraksi tiba-tiba), tonik-kloni (kaku dan kelojotan).
  • Kejang fokal/parsial, ialah kejang sebagian tubuh akibat ketidaknormalan pada sebagian area otak. Pada kejang ini dibagi lagi menjadi kejang dengan kehilangan kesadaran atau tanpa kehilangan kesadaran.[4]

Diagnosis Epilepsi[3,5]

Langkah untuk mengdiagnosis penyakit ayan dimulai dari wawancara yang dilakukan dokter untuk menggali informasi subyektif. Setelah itu, perlu dilakukan pemeriksaan fisik untuk  mengevaluasi kondisi saraf, menilai kemampuan motorik dan sensorik, perilaku, fungsi mental dan kognitif. Pemeriksaan dilanjutkan dengan penunjang meliputi:

  • Pemeriksaan darah untuk mengetahui tanda-tanda infeksi dan kondisi lainnya yang mungkin berkaitan dengan kejang
  • Elektroensefalogram (EEG), yaitu metode perekaman aktivitas listrik pada otak untuk mengetahui perubahan gelombang otak yang tidak normal. Melalui perekaman ini dapat memantau kejang yang dialami saat tidur ataupun tidak. Melalui pemeriksaan ini dapat memberikan informasi jenis kejang dan menyingkirkan kemungkinan lain.
  • CT (Computerized Tomography), yaitu gambar visual dari potong lintang otak menggunakan sinar X. Pemeriksaan ini memberikan informasi adanya bentukan visual abnormal pada otak seperti tumor, perdarahan, pembengkakan pada otak.
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging), yaitu gambar visual menggunakan medan magnet kuat dan radio untuk memberi gambaran pada otak. Pemeriksaan ini mendeteksi adanya abnormalitas otak. 
  • PET (Positron Emission Tomography), yaitu pencitraan visual area aktif dari otak dan melihat adanya abnormalitas pada otak. Pemeriksaan ini memanfaatkan zat radioaktif yang disuntikkan ke pembuluh darah vena.
  • SPECT (Single-Photon Emission Computerized Tomography). Mirip dengan PET yang memasukkan zat radioaktif ke dalam tubuh. Tujuan dari pemeriksaan ini untuk menghasilkan visual tiga dimensi dari aktivitas aliran darah pada saat kejang.

Pengobatan[5,7]

Pengobatan pada epilepsi dilakukan sesuai dengan pertimbangaan klinis masing-masing individu. Penanganan epilepsi dibagi menjadi:

  • Non-pembedahan. Pada pengobatan ini, pengidap mendapatkan obat anti epilepsi untuk menurunkan frekuensi dan intensitas kejang. Dokter memberikan terapi pengobatan anti epilepsi dengan berbagai pertimbangan sesuai klinis dan hasil evaluasi berkala. Pengobatan anti epilepsi dapat berbentuk monoterapi atau kombinasi. Beberapa efek samping dapat terjadi namun sangat ditentukan oleh respon per individu.
  • Pembedahan. Bila pengobatan anti epilepsi tidak lagi memberikan manfaat yang cukup, dokter mempertimbangkan untuk melakukan pembedahan. Prosedur ini dilakukan dengan cara mengangkat area otak yang mengalami gangguan. Pembedahan memberikan manfaat yang signifikan pada kejang parsial yang resisten dengan obat.

Pencegahan[8,9]

Tidak ada pencegahan spesifik terhadap epilepsi karena tidak diketahui penyebab yang mendasarinya. Sejauh ini belum ada metode pencegahan yang terbukti efektif. Mengontrol penyakit kronis seperti penyakit pembuluh darah (hipertensi, stroke), menghindari merokok dan mengonsumsi alkohol, mencegah proses penyakit infeksi otak yang luas, dan asuhan ibu hamil untuk mencegah terjadi gangguan pada janin.(LIO)

Referensi:

  1. Thijs, R., Surges, R., O’Brien, T. and Sander, J., 2019. Epilepsy in adults. The Lancet, 393(10172), pp.689-701.
  2.  WORLD HEALTH ORGANIZATION, et al, 2019. World Health Organization. Epilepsy: a public health imperative.
  3. Mayo Clinic. 2021. Epilepsy – Symptoms and causes. Available at: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy/symptoms-causes/syc-20350093 [Diakses 8 Juli 2021].
  4. Cleveland Clinic. 2021. Epilepsy Types & Symptoms: Treatment. Available at: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9917-epilepsy-types-and-their-symptoms [Diakses 8 Juli 2021].
  5. What you should know about epilepsy and seizures. (n.d.). Stony Brook Medicine | Stony Brook Medicine https://www.stonybrookmedicine.edu/patientcare/epilepsy[Diakses 8 Juli 2020]
  6. Seizures and epilepsy in children. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/epilepsy/seizures-and-epilepsy-in-children [ Diakses 8 Juli 2021]
  7.  Klikdokter.com. 2021. Penyakit Epilepsi – Gejala, Penyebab, Pengobatan – Klikdokter.com.
  8. Preventing epilepsy. 2019. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/epilepsy/preventing-epilepsy.htm [Diakses 8 Juli 2021]
  9. Aina, Q., 2021. Si Kecil Kejang Di Rumah, Apa Yang Harus Dilakukan? -Alinamed. Available at: https://alinamed.com/blog/index.php/2021/02/14/si-kecil-kejang-di-rumah-apa-yang-harus-dilakukan [Diakses 8 Juli 2021].
Leave a Reply