Baru-baru ini media dihebohkan oleh penangkapan dr Richard Lee atas tuduhan pencemaran nama baik. Penyebab awalnya diduga karena review skincare yang berbahaya bagi kesehatan. Bagaimana tips membedakan skincare abal-abal menurut dr Richard Lee?

Skincare akan bekerja dengan baik jika kandungan di dalamnya sesuai dengan prosedur, bahan terbukti aman, dan memiliki izin BPOM. Namun, kini banyak skincare abal-abal beredar di kalangan masyarakat dan terjual bebas melaui e-commerce maupun toko offline. Kandungan yang berbahaya pada skincare abal-abal dapat berakibat fatal pada kondisi kulit untuk jangka panjang.Tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan kulit, penggunaan skincare yang mengandung bahan berbahaya dapat mengakibatkan kerusakan pada organ dalam manusia. Parahnya lagi, kondisi ini akan berdampak jangka panjang hingga menyebabkan kegagalan organ.⁴

Tips membedakan skincare abal-abal menurut dr Richard Lee

Banyak cara untuk mengetahui bagaimana membedakan ciri-ciri skincare abal-abal, diantara²˒³ :

1. Memastikan Adanya Nama Perusahaan Pembuat

Perusaahaan yang memproduksi wajib menampilkan namanya pada kemasan produk skincare tersebut. Jika suatu produk memiliki semua hal namun tidak mencantumkan nama perusahaan pembuat. Kemasan pada skincare abal-abal kebanyakan berbentuk polos tanpa ada nama perusahaan pembuat, komposisi atau cara penggunaan. Dr. Richard pun mewanti-wanti kita untuk waspada.

2. Melihat dan Memastikan Komposisi Skincare

Jika suatu produk memiliki nama dan merk namun tidak mencantumkan bahan baku, dr. Richard mengungkapkan bahwa ini juga patut dicurigai karena tidak transparan dalam pembuatannya. Selain itu, dr Richard Lee mewanti-wanti untuk mengecek apakah produk tersebut mengandung bahan berbahaya seperti merkuri atau tidak. Ketika masuk ke dalam tubuh, merkuri dapat menimbulkan gangguan pada banyak sistem tubuh, seperti sistem saraf, sistem pencernaan, sistem kekebalan tubuh, dan juga organ tubuh, seperti paru-paru, ginjal, mata, dan kulit.⁴

3. Memastikan Adanya Penunjuk Cara Penggunaan

Tata cara penggunaan produk wajib tertera dalam kemasan, karena si pembuat produk tentunya paham prosedur yang baik agar aman  bagi penggunanya. “Kan nggak jelas kalau tidak ada cara penggunannya,” tuturnya dalam video youtube unggahan dr Richard Lee.

4. Mengecek Nomor BPOM

Menurut dr. Richard, nomor BPOM adalah hal paling penting dalam suatu produk kecantikan. Jika tidak ada, kita perlu waspada. Karena pada dasarnya nomor BPOM adalah acuan utama dalam suatu produk, apakah brand tersebut aman atau tidak untuk digunakan. Sosok dokter ini juga menghimbau, jika ada beberapa skincare abal-abal yang curang, karena menuliskan nomor BPOM pada kemasan tersebut, padahal nomor tersebut adalah palsu, jadi seringlah mengecek kembali nomor pada BPOM yang tertera pada produk.²

5. Melihat Nomor Batch dan Masa Kadaluarsa

Produk skincare resmi wajib mencantumkan nomor batch dan masa kadaluarsa. Hal ini penting untuk diperhatikan kembali, karena produk tentunya memiliki jangka penggunaan (kadaluarsa). Kebanyakan skincare abal-abal ini tidak memiliki nomor batch atau tenggat waktu kadaluarsa.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal pada perubahan kulit wajah tidak bisa instan, semua butuh proses. Jika suatu produk menjanjikan hasil instan patut untuk dicurigai. Jangan lupa untuk mengimbangi dengan pola hidup sehat dan tidur yang cukup agar skincare yang digunakan dapat bekerja dengan maksimal. Ingin mengetahui informasi lebih terkait penggunaan skincare? Klik selengkapnya di https://alinamed.com ya! (LOV)

Referensi:

  1. Cantika. 2021, Sosok Richard Lee, Dokter Kecantikan yang Sering Mengulas Skincare Abal-abal, https://www.cantika.com/read/1493887/sosok-richard-lee-dokter-kecantikan-yang-sering-mengulas-skincare-abal-abal (dilihat 13 Agustus 2021)
  2. Richard Lee. 2020, 5 SKINCARE LARIS ABAL-ABAL! TERJAHAT!! SAMPE PALSUIN NOMOR BPOM, https://www.youtube.com/watch?v=QAeTHCLCjiw (dilihat 13 Agustus 2021)
  3. Richard Lee. 2019, CARA TES CREAM BERBAHAYA TANPA TETES-TETES DAN ADUK! , https://www.youtube.com/watch?v=o5ZU9Hsff6I (dilihat 13 Agustus 2021)
  4. WHO. 2017, Mercury and Health, https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mercury-and-health (dilihat 13 Agustus 2021)
Leave a Reply