Pengertian Herpes Labialis

Herpes labialis merupakan suatu infeksi virus ditandai dengan plentingan atau lukayang muncul secara mendadak didaerah sekitar mulut. Penyakit ini termasuk umum terjadi dan sangat menular. Infeksi ini bersifat seumur hidup karena virusnya akan bertahan didalam tubuh[1,3].

Gejala[1,3]

Sebagian besar infeksi dari herpes labialis tidak bergejala. Meskipun tidak bergejala, penyakit ini masih dapat menularkan kepada orang lain walaupun lebih rendah tingkat penularannya [1]. Bentuk infeksi dari herpes dibagi menjadi dua :

  1. Infeksi Primer, merupakan infeksi yang terjadi pertama kali. Gejala yang ditimbulkan seperti dibawah ini :
  2. Rasa panas, gatal, dan kesemutan sebelum muncul plentingan.
  3. Muncul plentingan yang nyeri dengan dasar kemerahan, bergerombol, dan mudah pecah.
  4. Ketika plentingan pecah akan berubah menjadi luka yang dangkal
  5. Demam, lemas, dan nyeri otot
  6. Infeksi rekuren, merupakan infeksi kekambuhan dari herpes. Gejalanya tidak jauh berbeda dengan infeksi primer tetapi lebih ringan, lebih sedikit, bersifat lokal, dan dapat menghilang dalam waktu 5 hari. Kekerapan timbulnya gejala bervariasi pada setiap orang [1].

Penyebab

Terdapat beberapa macam virus herpes, yang menyebabkan herpes labialis merupakan herpes simpleks tipe 1. HSV-1 ini sangat menular sehingga kejadian herpes labialis sangat banyak. Berdasarkan WHO tahun 2021, sebanyak 67% penduduk dunia berusia dibawah 50 tahun menderita herpes labialis. Virus ini menular melalui kontak langsung dan melalui air liur[1,3].

Faktor Resiko

Karena metode penularannya yang disebabkan adanya kontak langsung maka seseorang akan lebih rentan mengalami herpes labialis pada orang yang melakukan hubungan intim yang tidak aman, baik dengan berciuman ataupun melakukan oral sex. Ingat bahwa sebagian besar orang yang memiliki infeksi herpes merupakan asimptomatik[1,2]. Oleh karena itu sebaiknya kita setia terhadap pasangan kita.

Diagnosa[3]

Penegakan diagnosa herpes labialis cukup mudah karena gejalanya yang cukup jelas. Apabila bentuknya menyerupai penyakit yang lain, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan:

  1. Tzank Smear, merupakan suatu pemeriksaan yang menggambil sampel dari kelainan kulit berupa plentingan yang akan dilakukan pewarnaan. Setelah dilakukan pewarnaan, hasilnya akan dilihat dibawah mikroskop untuk melihat apakah ada gambaran yang mengarah infeksi virus[6]
  2. Pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi terhadap Virus Herpes Simpleks. Jenis pemeriksaan ini dilakukan pada keadaan penderita tidak terdapat kelainan pada kulit[6].
  3. Pemeriksaan yang lain lebih jarang untuk dilakukan: Pemeriksaan Mikroskop Elektron, dan Kultur Jaringan[3].

Pengobatan Herpes Labialis

Pengobatan yang akan dilakukan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :

  1. Menjaga kebersihan area yang terinfeksi [2].
  2. Simptomatik diberikan untuk membantu meredakan gejala yang dirasakan tetapi tidak menghilangkan penyebab penyakit :
  3. Analgesik/ pereda nyeri
  4. Kompres dengan normal salin apabila gejala yang ditimbulkan adalah keropeng atau dalam bahasa kedokteran krusta.[3]
  5. Antivirus merupakan pengobatan yang paling efektif dalam menangani herpes labialis. Hal ini dapat mengurangi tingkat keparahan. Pemberian jenis anti virus bergantung dari penilaian dokter dan ketersediaan obat [1,3].

Herpes labialis tidak akan sembuh 100% ketika tidak sedang bergejala maka virus HSV-1 akan beristirahat pada saraf yang bernama ganglion, sehingga penyakit herpes ini akan bersifat kambuh kambuhan. Pada kasus kekambuhan yang telampau sering, dokter akan memberikan terapi antivirus selama 6 bulan yang bertujuan untuk menekan kekambuhan[3].

Pencegahan Herpes Labialis

Cara pencegahan supaya tidak terkena herpes labialis adalah :

  1. Mencegah kontak fisik dengan penderita herpes labialis yang sedang bergejala/ kambuh karena pada saat inilah tingkat penularan sangat tinggi[1,2].
  2. Gunakan alat makan sendiri serta minum dari gelas sendiri. Untuk mencegah kontak dengan saliva/ air liur penderita[1].
  3. Mengontrol tingkat stress, tidak meminum alkohol, tidak merokok, dan menjaga imunitas tubuh dapat mengurangi kemungkinan terjadi kekambuhan[4]. (KIN)

Referensi :

  1. Who.int. 2021. Herpes simplex virus. [online] Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/herpes-simplex-virus. Diakses pada tanggal : 18 Juli 2021.
  2. 2021. Oral Herpes. [online] Available at: https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/herpes-hsv1-and-hsv2/oral-herpes. Diakses pada tanggal : 18 Juli 2021.
  3. Murtiastutik, D., Ervianti, E., Agusni, I., Zulkarnain, I., Sukanto, H. and Barakbah, J., 2009. Penyakit Kulit & Kelamin. 2nd ed. Surabaya: Pusat Penerbitan dan percetakan Unair, pp.221 – 222.
  4. Stock, C., Guillén‐Grima, F., de Mendoza, J., Marin‐Fernandez, B., Aguinaga‐Ontoso, I. and Krämer, A., 2001. European Journal of Epidemiology, [online] 17(9), pp.885-890. Available at: https://www.researchgate.net/publication/11294304_Risk_factors_of_herpes_simplex_type_1_HSV-1_infection_and_lifestyle_factors_associated_with_HSV-1_manifestations. Diakses pada tanggal : 18 Juli 2021.
  5. Nurmalasari, M., 2021. Manfaat Merokok Bagi Kesehatan, Emang Ada Ya ? – Alinamed. [online] Alinamed. Available at: https://alinamed.com/blog/index.php/2021/02/28/manfaat-merokok-bagi-kesehatan-emang-ada-ya/. Diakses : 18 Juli 2021.
  6. Menaldi, Sri Linuwih SW Menaldi., Bramono, Kusmarinah., Indriatmi, Wresti., 2017. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 7.Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Leave a Reply