Pengertian

Migrain atau sakit kepala sebelah merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut gangguan sakit kepala berulang dengan serangan yang berlangsung selama 4 sampai 72 jam [2]. Karakteristik sakit kepala pada migrain berupa nyeri kepala di salah satu sisi (unilateral), berdenyut, dengan intensitas sedang atau berat, bertambah berat jika melakukan aktivitas fisik rutin, dan bisa diikuti mual atau fotofobia (rasa tidak nyaman saat melihat cahaya) dan fonofobia (rasa tidak nyaman saat menghirup bau).

Gejala

Gejala umum pada kasus migrain tentunya berupa sakit kepala yang bisa berulang dan bisa diawali dengan aura atau gejala visual (penglihatan) maupun neurologis (saraf sensorik). Gangguan visual yang bisa muncul seperti tampak cahaya lampu yang berkedip, garis zig-zag pada lapang pandang, hingga kehilangan penglihatan sekejap [3]. Menurut studi epidemiologi, sekitar kurang dari 15% penderita migrain merasakan aura lebih dulu. Namun sebagian besar migrain tidak didahului aura[6].

Penyebab Migrain

Migrain termasuk penyakit multifaktorial atau memiliki banyak faktor yang menyebabkan kemunculan gejalanya.

  • Sakit kepala pada migrain diduga karena aktivasi suatu jalur di otak[4]. Aktivasi jalur ini membuat nyeri yang khas timbul pada sebagian area kepala hingga dapat mempengaruhi area mata [5].
  • Jika dilihat secara anatomis, perubahan struktur dalam otak akibat sakit kepala berulang juga berdampak pada perkembangan migrain yang lebih parah [10]
  • Faktor genetik atau keturunan ternyata juga berkontribusi cukup besar pada kejadian migrain di seorang individu. Dikatakan bahwa 61% penderita migrain memiliki keluarga dengan keluhan yang sama dan sebagian besar berasal dari ibu [7].

Faktor risiko Migrain

Berdasarkan beberapa penelitian, perempuan akan lebih berisiko mengalami migrain dibandingkan dengan laki-laki [8]. Hal ini bisa dijelaskan oleh sebaran depresi di otak yang lebih rentan terjadi pada perempuan dan risikonya meningkat setelah menopause [9]. Namun secara umum, faktor pemicu yang paling sering ditemukan pada penderita-penderita migrain adalah gangguan psikologis, stres dan aktivitas fisik yang berlebihan [7]. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) juga menjelaskan beberapa faktor pencetus migrain diantaranya: menstruasi biasa pada hari pertama atau perubahan hormonal, puasa dan terlambat makan, cahaya kilat, banyak atau kurang tidur, atau mengonsumsi makanan yang mengandung alkohol, coklat, susu, keju, MSG berlebih [6].

Diagnosis Migrain

Diagnosa Migrain dapat ditegakkan jika penderita mengalami keluhan-keluhan berikut:

  1. Terjadi serangan sakit kepala berulang
  2. Nyeri kepala di salah satu area kepala
  3. Rasa berdenyut
  4. Keadaan bertambah berat oleh aktivitas fisik atau penderita menghindari aktivitas fisik rutin (seperti berjalan atau naik tangga).
  5. Adanya mual atau muntah [11].

Bicaralah pada dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan tambahan jika diperlukan serta mendapatkan terapi yang sesuai sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun demikian, tetap pertimbangkan pilihan ke dokter di fasilitas kesehatan di saat pandemi COVID-19 ini [12].

Pengobatan Migrain

Prinsip pengobatan migrain diharapkan mampu mengurangi atau menghentikan serangan sakit atau nyeri kepala yang sedang terjadi. Dokter dapat memberikan obat sakit kepala. Apabila gejala tidak membaik dengan upaya awal, maka dapat diberikan obat-obatan spesifik untuk migrain. Di samping itu, dokter mungkin akan memberikan obat anti-muntah jika penderita terganggu dengan gejala mual dan muntah. Pilihan terapi farmakologi ini diberikan sebagai obat yang dapat dikonsumsi mandiri sehingga tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, kecuali jika penderita memiliki gejala yang sangat hebat atau ada penyakit lain yang menyertai sehingga perlu dilakukan rawat inap.

Pencegahan Migrain

Secara umum, migrain dapat dicegah dengan menjaga dan memperbaiki gaya hidup yang baik. Hal ini didasarkan pada masalah pola makan seperti puasa, kontrol emosi, jadwal menstruasi, penggunaan obat-obatan, perubahan cuaca, gangguan tidur, dan cahaya terang dapat memicu serangan migrain [1]. Maka, sebaiknya kita menjauhi faktor pencetus di atas serta melakukan aktivitas yang dapat menjaga kesehatan fisik dan mental seperti olahraga maupun teknik relaksasi lainnya. Komunikasikan juga kepada orang terdekat apabila ada hal yang tidak nyaman atau jika muncul nyeri agar mengurangi pikiran-pikiran negatif dalam diri kita. (HAN)

Referensi:

  • Simon RP, Aminoff MJ, Greenberg DA. 2018. Clinical Neurology, 10th edition. United State of America: The McGraw-Hill Companies, Inc.
  • Araki Nobuo, dkk. 2019. Clinical practice guideline for chronic headache 2013. Neurology and Clinical Neuroscience;7(5): 231-259.
  • NINDS. 2019. Migraine Information Page. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Tersedia di: https://www.ninds.nih.gov/Disorders/All-Disorders/Migraine-Information-Page
  • Goadsby P. J. 2012. Pathophysiology of migraine. Annals of Indian Academy of Neurology15(Suppl 1), S15–S22. https://doi.org/10.4103/0972-2327.99993
  • Burstein, R., Noseda, R., & Borsook, D. 2015. Migraine: multiple processes, complex pathophysiology. The Journal of neuroscience: the official journal of the Society for Neuroscience, 35(17), 6619–6629. https://doi.org/10.1523/JNEUROSCI.0373-15.2015
  • PERDOSSI. 2016. Panduan Praktik Klinis Neurologi. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.
  • Al-Shimmery E. K. 2010. Precipitating and relieving factors of migraine headache in 200 iraqi kurdish patients. Oman medical journal25(3), 212–217. https://doi.org/10.5001/omj.2010.59
  • Peterlin, B. L., Gupta, S., Ward, T. N., & Macgregor, A. 2011. Sex matters: evaluating sex and gender in migraine and headache research. Headache51(6), 839–842. https://doi.org/10.1111/j.1526-4610.2011.01900.x
  • Eikermann-Haerter, K., Dileköz, E., Kudo, C., Savitz, S. I., Waeber, C., Baum, M. J., Ferrari, M. D., van den Maagdenberg, A. M., Moskowitz, M. A., & Ayata, C. 2009. Genetic and hormonal factors modulate spreading depression and transient hemiparesis in mouse models of familial hemiplegic migraine type 1. The Journal of clinical investigation119(1), 99–109. https://doi.org/10.1172/JCI36059
  • Sprenger T, Borsook. 2012. Migraine changes the brain: neuroimaging makes its mark. Curr Opin Neurol 25:252–262.
  • IHS. 2021. The International Classification of Headache Disorders 3rd edition. International Headache Society.
  • Ad deen, AN. 2021. “Menunda Ke Dokter Ditengah Pandemi Covid-19? | Berikut Penjelasannya. Tersedia di: https://alinamed.com/blog/index.php/2020/07/25/haruskah-menunda-ke-dokter-ditengah-pandemi-covid19/
Leave a Reply