Pengertian

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan suatu kondisi dimana tekanan darah sistolik (“atas”) 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik (“bawah”) ≥90 mmHg pada minimal 2 kali pengukuran dalam 2 kunjungan yang berbeda. Tekanan darah ditentukan dari jumlah darah yang dipompa jantung dan besarnya tahanan di pembuluh darah. Tekanan darah yang tinggi terus menerus dan berlangsung lama dapat menyebabkan masalah kesehatan, misalnya penyakit jantung.

Lebih dari satu miliar orang di dunia mengalami darah tinggi. Pada tahun 2010, survei kesehatan global dari 67 negara melaporkan bahwa hipertensi menjadi penyebab utama kematian dan ketidakmampuan/kecacatan di seluruh dunia sejak tahun 1990. Data Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) tahun 2016 mencatat bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 32,28%[1,2,3,4,5].

Gejala Hipertensi

Sebagian besar orang dengan tekanan darah tinggi tidak bergejala. Gejala umumnya baru dirasakan saat makin memberat atau menyebabkan kerusakan pada organ lain (komplikasi). Gejala yang bisa dirasakan penderita darah tinggi yaitu[1,5]:

  • Sakit kepala
  • Sesak
  • Mimisan
  • Mudah Lelah
  • Jantung berdebar
  • Penglihatan kabur
  • Kesadaran menurun

Penyebab Hipertensi [2,3,5]

Penyebab dapat dibagi menjadi dua yaitu:

  • Hipertensi primer/esensial

Pada tekanan darah tinggi primer tidak ditemukan penyebab yang mendasari. Jenis ini biasanya terjadi perlahan-lahan selama bertahun-tahun dan dikaitkan dengan peningkatan konsumsi garam, kegemukan/obesitas, dan riwayat keluarga dengan darah tinggi. Jumlah kasusnya yaitu 90-95% dari seluruh kasus tekanan darah tinggi. Selain itu 50-60% pasien darah tinggi memiliki kecenderungan untuk sensitif terhadap garam sehingga lebih mudah terjadi hipertensi.

  • Hipertensi sekunder

Tekanan darah tinggi yang terjadi disebabkan karena adanya penyakit lain, misalnya gangguan tidur yang membuat berhenti bernapas (obstructive sleep apnea), penyakit ginjal kronis, masalah kelenjar tiroid, penggunaan obat-obatan tertentu (pil KB, dekongestan/pelega hidung tersumbat, obat antinyeri, kortikosteroid, alkohol, kafein, kokain), dan sindrom cushing. Jumlah kasusnya 5-10%.

Faktor Risiko Hipertensi [1,6]

Terdapat banyak faktor risiko tekanan darah tinggi yang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  • Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi/diubah, yaitu usia tua, jenis kelamin laki-laki, dan riwayat hipertensi atau penyakit jantung dalam keluarga
  • Faktor risiko yang dapat diubah, yaitu kegemukan/obesitas, pola makan tinggi garam, konsumsi alkohol, merokok, pola hidup sedenter atau kurang berolahraga, diabetes melitus, kolesterol tinggi/dislipidemia, psikososial, dan stres.

Diagnosis Hipertensi [1,6]

Diagnosis darah tinggi didapatkan dari keluhan berupa sakit atau nyeri kepala, gelisah, jantung berdebar, pusing, rasa tidak nyaman di kepala, mimisan, leher kaku, penglihatan kabur, rasa sakit di dada, dan gelisah. Dan pada pemeriksaan tensi/tekanan darah ditemukan tekanan darah ≥140/90 mmHg.

Hasil pemeriksaan tekanan darah dapat dikelompokkan menjadi[6,7]

  • Normal yaitu <120 mmHg/<80 mmHg
  • Pre-hipertensi yaitu 120-139 mmHg/80-89 mmHg
  • Hipertensi derajat 1 yaitu 140-159 mmHg/80-99 mmHg
  • Hipertensi derajat 2 yaitu ≥160 mmHg/≥100 mmHg

Selain pemeriksaan tekanan darah, dokter juga akan melakukan pemeriksaan untuk melihat apakah ada komplikasi organ lain, misalnya melalui pemeriksaan mata, laboratorium, rekam jantung/EKG, dan foto rontgen dada.

Pengobatan Hipertensi

Obat-obatan yang dapat diberikan untuk penderita darah tinggi yaitu obat untuk membuang kelebihan garam dan cairan dalam tubuh, penghambat enzim yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, atau obat untuk melebarkan pembuluh darah.

Selain diberikan obat-obatan, penderita hipertensi juga wajib menjaga pola hidup sehat, berat badan ideal, menghindari rokok, dan berolahraga secara teratur[1,2,6].

Pencegahan Hipertensi

Penderita hipertensi harus mengonsumsi obat secara teratur dan dalam jangka waktu yang lama untuk mencegah komplikasi. Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit darah tinggi yaitu[1,5,8,9]:

  • Pola makan yang sehat dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, rendah garam, tinggi kalium, dan rendah lemak. Konsumsi garam yang dianjurkan yaitu kurang dari 5 gram per hari atau setara dengan 1 sendok teh garam dapur.
  • Menjaga berat badan ideal, yaitu dengan cara menghitung indeks massa tubuh
  • Berolahraga teratur, sekitar 90-150 menit per minggu
  • Tidak merokok
  • Mengurangi konsumsi alcohol
  • Mengurangi stress
  • Tidur cukup
  • Melakukan relaksasi dan mengambil napas dalam

Referensi:

  1. Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2021: Update Konsensus PERHI 2019. Jakarta: Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia
  2. Liwang F, Yuswar PW, Wijaya P, Sanjaya NP. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 5 Jilid II. 2020. Jakarta: Media Aesculapius
  3. Iqbal AM, Jamal SF. Essential Hypertension. [Updated 2020 Jul 10]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539859/
  4. Kementrian Kesehatan RI. Laporan Survei Indikator Kesehatan Nasional 2016. 2016. Jakarta:Kementrian Kesehatan RI
  5. Mayo Clinic. High Blood Pressure (Hypertension). 2021. Tersedia di https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/symptoms-causes/syc-20373410 [Diakses 13 Juli 2021]
  6. Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. 2017. Jakarta:Ikatan Dokter Indonesia
  7. Chobanian A, Bakris G, Black G, et al. The seventh report of the Joint National Committee 7 on prevention, detection, evaluation, and treatment of high blood pressure in adult. Hypertension. 2018:71(6);e13-115
  8. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Prevent High Blood Pressure. 2020. Tersedia di https://www.cdc.gov/bloodpressure/prevent.htm [Diakses tanggal 13 Juli 2021]
  9. Permatasari I. Stop! Bahaya Asap Rokok Picu Si “SILENT KILLER”. 2020. Alinamed. Tersedia di https://alinamed.com/blog/index.php/2020/09/20/stop-bahaya-asap-rokok-picu-si-silent-killer/  [Diakses 13 Juli 2021]
Leave a Reply