Hadirnya buah hati setelah menikah merupakan hal yang diidam-idamkan sebagian besar pasangan di dunia.

Khususnya budaya negara timur beranggapan  memiliki anak adalah kesempurnaan kehidupan berumah tangga. Munculnya influencer dan artis tanah air yang mengungkapkan untuk tidak ingin memiliki anak menjadi topik hangat untuk dibicarakan. Banyaknya pro dan kontra mengenai isu tersebut, sebenarnya apa sih childfree itu?

1 dari 4 Pasangan di Michigan memilih Childfree

Istilah childfree telah ada sejak tahun 1970-an, didefinisikan sebagai seseorang yang tidak memiliki anak dan tidak ingin memiliki anak. Definisi childfree berbeda dengan seseorang yang ingin memiliki anak namun tidak bisa karena faktor biologis, seperti kesuburan. Mengadopsi anak bukan dikategorikan childfree, karena seseorang tetap akan berperan sebagai orang tua. Berbeda juga dengan kondisi seseorang yang belum berencana memiliki anak di masa depan. Hasil studi oleh Neal et al di tahun 2021 menunjukkan 1 dari 4 pasangan di Michigan, Amerika Serikat, memilih untuk tidak ingin memiliki anak. Di Indonesia belum memiliki data mengenai childfree. [1]

Budaya masyarakat kita lekat dengan anggapan bahwa memiliki anak setelah menikah merupakan anugerah yang tak ternilai. Terdapat bentuk pola di masyarakat Indonesia  bahwa konsep keluarga harmonis dan bahagia tercipta ketika terdapat keberadaan anak di dalam keluarga. Hal ini didasari oleh teori fungsi reproduksi adalah untuk menciptakan keturunan. Bertentangan bagi pasangan yang memilih childfree, memiliki anak bukanlah satu-satunya alasan kebahagian dan keharmonisan keluarga.[2]

Mengapa memilih childfree?[1,3]

Diantara kita mungkin pernah mendengar “banyak anak banyak rejeki?”, bukan?  Namun kini sepertinya hal tersebut tidak lagi menjadi semboyan yang ideal bagi beberapa pasangan. Era modern saat ini lebih mengedepankan kualitas kehidupan yang optimal. Pasangan yang memilih untuk memiliki anak berupaya maksimal memenuhi kewajiban sebagai orang tua, memenuhi hak dan memberikan kehidupan yang ideal bagi anak. Melahirkan anak menjadi penerus generasi yang berkualitas, penuh tanggung jawab merupakan prioritas saat ini, bukan persoalan kuantitasnya.

Hasil riset di Amerika menunjukkan dibanding dengan tahun 1970an, pasangan suami istri yang memilih childfree meningkat sebesar 10% pada tahun 2000an. Keputusan pasangan childfree pada penelitian tersebut didasari oleh berbagai hal termasuk permasalahan keluarga dan pertimbangan pengasuhan anak di masa depan. Memilih childfree atau pun tidak merupakan keputusan pribadi setiap pasangan. Berikut beberapa pertimbangan seseorang memilih menjadi pasangan childfree :

1. Nilai kehidupan yang dianut

Pasangan childfree cenderung memiliki nilai kehidupan bahwa keluarga yang bahagia dan harmonis tidak harus memiliki anak. Menjadi pasangan yang saling melengkapi satu sama lain dianggap cukup membentuk keluarga yang ideal. Melahirkan anak erat kaitannya dengan peran seorang ibu. Beberapa wanita menganut bahwa melahirkan bukan salah satu keharusan sebagai wanita di dunia menjadi sebuah pertimbangan memilih childfree. Keputusan tersebut didukung dengan pasangan pria yang menganggap bahwa melahirkan anak atau tidak adalah keputusan pasangan wanitanya.

2. Trauma keluarga masa lalu

Adanya kejadian traumatis saat seseorang menjadi anak dalam keluarga dapat menjadi pertimbangan seseorang enggan memiliki anak. Seseorang cenderung berpikir tidak ingin memiliki anak yang mengalami hal serupa di masa yang akan datang.

3. Masalah keuangan

Hal keuangan yang dapat menjadi pertimbangan pasangan tidak ingin memiliki anak adalah kemampuan ekonomi yang rendah. Pasangan cenderung berpikir bahwa dengan kondisi ekonomi yang minim tidak dapat memberikan fasilitas yang cukup untuk anak dan tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga.

4. Pengaruh lingkungan dan budaya

Memutuskan childfree akan sulit bila tidak didukung dengan lingkungan sekitar. Faktor keluarga dan kelompok sosial yang menanamkan nilai kebebasan untuk pasangan memilih childfree atau tidak menjadi peran yang penting.

Seberapa pentingnya mempertimbangkan keputusan childfree? [4,5]

Meskipun memilih childfree atau tidak merupakan hak pribadi pasangan, hendaknya tetap mempertimbangkan keputusan dengan matang. Kesulitan yang dihadapi terutama bagi masyarakat Indonesia adalah sulit menerima kondisi keluarga yang tidak memiliki keturunan. Munculnya pandangan negatif terhadap pasangan suami istri yang tidak memiliki anak dibuktikan dengan adanya stigma negatif di masyarakat. Budaya kelompok sosial masih rendah menoleransi childfree sebagai pilihan. Tidak adanya anak bagi pasangan suami istri dikatakan juga mengakibatkan beban emosional yang besar akibat nilai yang dianut budaya sekitar. Sebaiknya memilih keputusan childfree tidak hanya semata karena sedang menjadi tren. Mengkonsultasikan dengan pasangan tentang segala konsekuensi yang dapat terjadi jika memilih childfree. Penting untuk saling mengetahui keinginan masing-masing pasangan agar keputusan yang diambil sama-sama menguntungkan dan tidak membuat hubungan menjadi tidak lebih baik. Bila perlu konsultasikan dengan dokter kami di Aplikasi Alinamed untuk membantu pasangan menentukan keputusan. (LIO)

Referensi :

  1. Watling Neal, J. and Neal, Z., 2021. Prevalence and characteristics of childfree adults in Michigan (USA). PLOS ONE, 16(6), p.e0252528. https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0252528
  2. Wirawan, I.B. (2012). Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma (Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial). Jakarta: Kencana.
  3. Wittek, Rafael. (2016). “Rational Choice Theory”, dalam Warms, Richard L& McGee, R.Jon.(2013). Theory In Social and Cultural Antrophology. London: SAGE Publications.
  4. Handayani, A. and Najib, N., 2019. KEINGINAN MEMILIKI ANAK BERDASARKAN TEORI PILIHAN RASIONAL (ANALISIS DATA SDKI TAHUN 2017). EMPATI-Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2).
  5. Nurmalasari, Miftah,2021. Dua Garis Biru pada Alat Tes Kehamilan, Apa Bisa Dipercaya?Alinamed, https://alinamed.com/blog/index.php/2021/06/09/ketika-seorang-wanita-mencurigai-dirinya-sedang-hamil-hal-yang-paling-mudah-dilakukan-adalah-dengan-melakukan-tes-kehamilan-sendiri-di-rumah-namun-munculnya-dua-garis-biru-pada-alat-tes-kehamilan-se/ [Diakses 23 Agustus 2021]
Leave a Reply