Pengertian

Hepatitis B adalah penyakit yang menyerang organ hati dan menular, yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB). Penyakit ini dibagi menjadi 2 berdasarkan lama infeksi yaitu:

  • Hepatitis B akut

Penyakit ini terjadi dalam 6 bulan pertama setelah infeksi VHB.

  • Hepatits B kronis

Dikatakan kronis apabila VHB menetap didalam tubuh manusia hingga lebih dari 6 bulan[3]. Pada Hepatitis B Kronis yang tidak terkontrol akan berkembang menjadi Sirosis Hepatik hingga Keganasan Hati dengan angka kematian yang semakin tinggi[1,2]. Sebanyak 15-20% pasien meninggal akibat penyakit liver kronis yang disebabkan karena VHB[3].

Gejala[2,3]

  • Demam tidak terlalu tinggi
  • Lemas badan
  • Tidak nafsu makan
  • Mual muntah
  • Nyeri otot
  • Nyeri perut kanan atas
  • Tubuh kekuningan
  • Kencing seperti teh

Apabila sudah menjadi sirosis bisa diikuti dengan gejala perut yang membesar akibat penumpukan cairan dirongga perut, hingga penurunan kesadaran.

Penyebab Hepatitis B[3]

Disebabkan karena infeksi dari VHB. VHB dapat menular melalui beberapa cara:

  1. Vertikal, artinya seorang dapat menularkan infeksi VHB ke anaknya melalui plasenta atau saat proses persalinan.
  2. Cairan tubuh manusia termasuk darah, serum, dan eksudat luka/ cairan pada luka. Bisa juga terdapat pada semen, cairan vagina, dan air liur dalam konsentrasi sedang. Konsentrasi rendah pada urin, feses, keringat, air mata, dan ASI.

Faktor Resiko Hepatitis B[2,3]

  1. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril seperti pada pengguna narkoba suntik, pengguna tindik, tattoo.
  2. Bayi dari ibu dengan hepatitis B yang tidak terkontrol
  3. Tenaga kesehatan yang tertusuk jarum suntik bekas dari pasien dengan hepatitis B atau terpapar cairan tubuh pasien, dengan kemungkinan penularan yang lebih rendah
  4. Perilaku seksual yang sering berganti ganti pasangan
  5. Transfusi darah
  6. Penerima donor organ

Diagnosis Hepatitis B[2,3]

Hepatitis A,B,C,D, dan E memiliki gejala yang hampir sama sehingga penegakan diagnosis membutuhkan pemeriksaan tambahan. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah:

  1. Seromarker, merupakan penanda adanya virus didalam tubuh kita yang dideteksi melalui darah.
  2. Fungsi liver diperiksa untuk mengetahui tingkat keparahan dari kerusakan liver seperti kadar AST dan ALT, kadar bilirubin, dan fungsi pembekuan darah.
  3. Pencitraan mengunakan ultrasonografi(USG) dapat dilakukan untuk melihat gambaran liver sudah mengarah ke sirosis atau ke keganasan.
  4. Biopsi Hati merupakan pemeriksaan yan paling baik untuk mendiagnosis Hepatitis B Kronis. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat gambaran kronisitas jaringan liver serta derajat keparahan sebelum memulai terapi antivirus.
  5. Tumor Marker dilakukan apabila curiga sudah berkembang menjadi keganasan liver.

Pada hepatitis B akut biasanya hanya dilakukan pemeriksaan seromarker hepatitis dan fungsi hati/liver.

Pengobatan

Pada kasus hepatitis B akut tidak ada tatalaksana yang spesifik hanya terapi berdasarkan gejala yang diderita pasien[3]. Sedangkan pada penyakit hepatitis B kronis tatalaksananya akan lebih sukar. Hingga saat ini, VHB belum bisa dihilangkan dari dalam tubuh pasien. Tujuan utama terapi adalah untuk mencegah perkembangan penyakit supaya tidak menjadi sirosis hepatis atau keganasan dengan cara menekan agar virus tidak berkembang biak[1,3].  

Pengobatan hanya diberikan apabila terdapat tanda bahwa penyakit sedang aktif. Hal ini akan ditentukan oleh dokter spesialis penyakit dalam. Bila sedang tidak dalam kondisi aktif maka dilakukan monitoring seromarker secara berkala.

Terdapat dua macam pengobatan, yaitu :

  1. Imunomodulator: merupakan terapi untuk memperkuat sistem imun
  2. Antivirus: Indonesia tersedia beberapa jenis antivirus yang penggunaanya akan ditentukan oleh dokter yang merawat. Obat antivirus diberikan dengan cara diminum dengan jangka waktu yang tidak dapat ditentukan dan secara terus menerus.

Pencegahan[3]

Selain mencegah faktor resiko penularan, saat ini sudah tersedia vaksin. terdapat dua jenis :

  1. Vaksin sebelum terpapar hepatitis yang umumnya diberikan pada tenaga kesehatan, orang yang tinggal didaerah dengan angka kejadian yang tinggi termasuk anak anak, pasien pengguna obat obatan suntik.
  2. Vaksin setelah terpapar hepatitis B. Seperti pada tenaga Kesehatan yang tidak sengaja tertusuk jarum bekas pasien maka perlu diberikan vaksin jenis ini tujuannya adalah agar VHB yang masuk kedalam tubuh bisa segera dilawan dengan pemberian vaksin jenis ini.

Anda juga bisa mencari informasi mengenai penyakit lainnya di aplikasi Alinamed. (KIN)

Referensi

  1. Tjokroprawiro, A., Setiawan, P., Santoso, D. and Soegiarto, G., 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2nd ed. Surabaya: Airlangga University Press, pp.278-285.
  2. Alwi, I., Salim, S., Hidayat, R., Kurniawan, J. and Tahapary, D., 2015. Penatalaksanaan Di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Panduan Praktik Klinis. Jakarta: InternaPublishing, pp.236-239.
  3. Setiati, S., Alwi, I., Sudoyono, A., Simadibrata, M., Setiyohadi, B. and Syams, A., 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 2nd ed. Jakarta: Interna Publishing, pp.1950-1953.
  4. Anggraini, Dian.,2021.Hipertensi. Alinamed. https://alinamed.com/blog/index.php/2021/08/23/hipertensi/ [diakses 24 Agustus 2021].
Leave a Reply