Pengertian

Strongyloidiasis adalah suatu penyakit yang disebabkan karena infeksi cacing gelang Strongyloides. Penyakit ini banyak dijumpai pada negara dengan iklim tropis dan sub-tropis, termasuk Indonesia. Penyebaran penyakit strongyloidiasis paling tinggi ditemukan saat musim panas, terutama pada tempat padat penduduk dengan sanitasi yang buruk(1).

Gejala

Gejala yang timbul pada pasien dengan strongyloidiasis dapat bermacam-macam. Sebanyak 50% pasien dengan strongyloidiasis tidak mengalami gejala apapun (asimptomatik). Namun, pada beberapa kasus, strongyloidiasis dapat menimbulkan gejala baik pada sistem pernapasan, pencernaan, dan kulit. Pada awal infeksi saat larva cacing menembus kulit, pasien dapat mengalami gejala berupa rasa gatal serta kemerahan yang membentuk pola berkelok seperti cacing di kulit terutama pada daerah kaki dan anus. Saat larva memasuki saluran pencernaan, maka akan timbul beberapa gejala pada saluran pencernaan, seperti:

  1. Nyeri perut dan kembung
  2. Kehilangan nafsu makan
  3. Penurunan berat badan
  4. Mual dan muntah
  5. Diare dalam jangka waktu lama
  6. Konstipasi
  7. Rasa gatal di sekitar anus

Gejala pada saluran pernapasan akibat infeksi cacing Strongyloides dapat terjadi karena larva cacing yang bermigrasi ke saluran napas. Beberapa gejala pada saluran pernapasan akibat strongyloidiasis yaitu batuk yang dapat disertai darah, mengi, sesak, dan demam(1,2).

Strongyloidiasis dapat menyebabkan sindroma hiper-infeksi pada pasien dengan gangguan imunitas. Kekebalan tubuh yang tidak sempurna menyebabkan larva dapat bermigrasi ke organ lain di dalam tubuh selain sistem pernapasan dan pencernaan. Pada kondisi ini, angka kematian akibat strongyloidiasis dapat meningkat hingga 80%(3).

Penyebab

Pada manusia, strongyloidiasis umumnya disebabkan karena Strongyloides stercoralis. Beberapa spesies lain seperti Strongyloides fuelleborni yang banyak ditemukan di daerah Afrika dan Papua Nugini bersifat zoonotik dan jarang menginfeksi manusia(3).

Infeksi dapat terjadi apabila kulit terkena tanah yang sudah terkontaminasi dengan larva Strongyloides. Larva kemudian melakukan penetrasi ke dalam kulit, dan melalui sirkulasi vena menuju ke paru-paru dan saluran pencernaan. Larva dapat terus berkembang hingga menjadi cacing dewasa dan menghasilkan telur baru di dalam tubuh manusia. Telur yang dihasilkan cacing dewasa dapat tetap berada di dalam saluran pencernaan dan menyebabkan infeksi kembali, atau keluar bersama tinja manusia(3).

Faktor Resiko

Beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terkena strongyloidiasis yaitu:

  • Bepergian ke daerah tropis atau subtropis
  • Higienitas yang buruk
  • Kebiasaan buang air besar sembarangan
  • Sedang dalam penggunaan obat kortikosteroid
  • Penderita penyakit kanker dan keganasan, salah satunya yaitu leukimia
  • Infeksi HIV/AIDS
  • Gangguan ginjal
  • Riwayat transplantasi organ
  • Gizi buruk
  • Usia tua
  • Diabetes mellitus
  • Konsumsi alkohol berlebih(2)

Diagnosis Strongyloidiasis

Dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai gejala, riwayat bepergian, dan gaya hidup. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut. Pada kondisi tertentu, beberapa pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan seperti pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui jumlah sel darah putih, serta pemeriksaan feses untuk melihat ada tidaknya larva atau telur Strongyloides(2).

Pengobatan Strongyloidiasis

Baik bergejala maupun tidak, strongyloidiasis harus ditangani dengan tepat dan hingga tuntas untuk mencegah penyebaran parasit. Tujuan pengobatan adalah untuk menghilangkan cacing di dalam tubuh. Pengobatan lini pertama adalah dengan memberikan obat cacing jenis ivermectin. Pada ibu hamil, konsumsi ivermectin tidak dianjurkan sehingga dokter mungkin akan menggantinya dengan obat cacing jenis lain seperti albendazole atau tiabendazole(3). Pemberian obat simptomatis juga dapat dilakukan untuk mengurangi gejala yang dialami pasien.

Pencegahan Strongyloidiasis

Pencegahan dapat dilakukan yakni:

  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar
  • Tidak buang air kecil dan buang air besar di sembarang tempat
  • Mengenakan alas kaki ketika beraktivitas di luar rumah
  • Rajin cuci tangan dengan benar

Anda juga dapat membaca tentang penyakit cacing lainnya hanya di aplikasi Alinamed(4). (QRA)

Reference:

  1. CDC, 2019. Strongyloidiasis. Accessed on: https://www.cdc.gov/dpdx/strongyloidiasis/index.html
  2. Chandrasekar, 2019. Strongylodiasis. Medscape. Accessed on: https://emedicine.medscape.com/article/229312-overview
  3. Ganesh and Cruz, 2011. Strongyloidiasis: A Multifaceted Disease. Gastroenterologu and Hepatology Independent Peer-Reviewed Journal. Accessed on: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3079152/
  4. Kinanti, Hapsari, 2011. Penyakit Cacing Kremi, Aliamed. Accessed on: https://alinamed.com/blog/index.php/2021/08/23/penyakit-cacing-kremi/
Leave a Reply